Pasuruan, MON — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan, Jawa Timur, terus menggencarkan sosialisasi Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG). Program yang menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif ini dinilai krusial untuk membentuk generasi emas sekaligus menghemat anggaran negara yang kerap habis untuk membiayai pengobatan.
Hal ini disampaikan oleh Dr. Ahmad Shohib, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Pasuruan, dalam sebuah dialog interaktif, Rabu (29/10/2025). Menurutnya, pola pikir masyarakat yang masih sering mengabaikan deteksi dini perlu diubah.
“Banyak yang takut untuk periksa. Mereka sudah kebayang-bayang yang tidak-tidak. Padahal, justru dengan pemeriksaan kita bisa mendeteksi dini,” ujar Shohib, menanggapi kekhawatiran masyarakat yang enggan memeriksakan kesehatannya.
Ia menekankan bahwa paradigma pemerintah kini telah bergeser dari sekadar membiayai pengobatan ke investasi dalam pencegahan. “Uang akan habis hanya untuk membiayai orang sakit. Pengobatan ya, melakukan pengobatannya. Salah satu bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) adalah tidak merokok. Cukai rokok hanya berapa, tapi untuk mengatasi masalah kesehatan di rumah sakit, waduh, harta berapapun akan habis,” tegasnya.
PKG: Investasi Kesehatan yang Komprehensif
Shohib memaparkan, PKG adalah wujud nyata kepedulian negara terhadap warganya. Pemeriksaan yang jika dinilai secara komersial bisa mencapai Rp 1,9 hingga 2 juta per orang ini, kini dapat diakses secara gratis di seluruh Puskesmas.
“Negara tuh udah cinta banget sama warganya. Ulang tahun dikasih kado, kadonya PKG. Sekarang gak harus ulang tahun, dibuka untuk semua setiap saat, setahun sekali,” jelasnya.
Pendaftaran PKG dapat dilakukan dengan tiga cara: mengunduh aplikasi SSM di Playstore, melalui WhatsApp dengan kata kunci KADU, atau datang langsung ke Puskesmas bagi lansia atau yang tidak memiliki gawai.
Sasaran Pemeriksaan dari Bayi hingga Lansia
PKG menyasar semua lapisan usia dengan pemeriksaan yang disesuaikan:
Bayi Baru Lahir (2 Hari): Skrining hipotiroid kongenital (SHK), gangguan sel darah merah (seperti thalassemia), kekurangan hormon adrenal, dan jantung bawaan untuk mencegah stunting.
Balita (2 Tahun): Pemeriksaan thalassemia dan gula darah, serta tumbuh kembang (DDTK).
Anak Sekolah & Remaja: Menjadi penyumbang terbesar capaian PKG Kota Pasuruan saat ini.
Dewasa Wanita (≥28 Tahun): Pemeriksaan IVA test dan SADANIS (kanker leher rahim dan payudara).
Dewasa Pria (≥45 Tahun): Skrining kanker paru, terutama bagi perokok.
Lansia (≥60 Tahun): Skrining kanker prostat dan usus.
Calon Pengantin (Catin): Pemeriksaan untuk mendeteksi HIV, sifilis, dan hepatitis.
Tingkat Partisipasi dan Tantangan
Shohib mengungkapkan capaian partisipasi PKG di Kota Pasuruan hingga akhir Oktober 2025 telah mencapai 35,5%, sangat dekat dengan target tahunan sebesar 36%. Namun, partisipasi ini masih didominasi oleh anak sekolah dan remaja.
“Untuk CKG bayi target kita 65%, baru tercapai 48,3%. Untuk dewasa, targetnya 35% baru tercapai 27,7%. Sementara lansia, target 50% baru 32,99%,” rincinya.
Tantangan terbesar, menurut Shohib, adalah membangun kemauan masyarakat. “Mengajak datang ke Posyandu saja sulit, makanya diajak ke Puskesmas. Yang diinginkan pemerintah hanya satu: kemauan untuk periksa,” ajaknya.
Ia mengingatkan, kejujuran dalam mengisi survei skrining awal sangat penting. “Kalau bohong, sama aja bohong. Percuma. Kalau nanti hasilnya jelek, kembalinya ke kita lagi.” ujarnya.
Dengan mendeteksi risiko penyakit sedini mungkin, masyarakat dan pemerintah dapat bersama-sama mencegah beban biaya pengobatan yang lebih besar di masa depan. “Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati,” pungkas Shohib mengingatkan. (*)
Laporan: Firnas Muttaqin
Editor: Ifan Ar Uzan








