PASURUAN, MON – Menyambut Hari Santri 2025, Pondok Pesantren SPEAM (Sekolah Pesantren Entrepreneur Al Ma’un Muhammadiyah) Pasuruan mengambil inisiatif untuk membekali para santri dengan kecakapan era modern melalui “Pelatihan Santri Digital”. Acara yang berlangsung pada Selasa, 21 Oktober 2025, di Pondok SPEAM Putri dan Putra ini digelar atas kolaborasi Media PasMu dengan SPEAM.
Pelatihan ini lahir dari keprihatinan terhadap pesatnya perkembangan teknologi yang telah diakses oleh Generasi Z dan Alpha. Meski pintar mengutak-atik internet, *artificial intelligence* (AI), dan media sosial, tak jarang pemanfaatannya belum tepat guna.
“Kedatangan kami ke sini dalam rangka ingin meluruskan kembali. Barangkali teman-teman belum bisa memanfaatkan media sosial, AI, ataupun internet dengan baik dan bijak,” ujar Wildan dari PasMu dalam sambutannya.
*Bedah Konten Langsung dan Strategi SEO*
Materi pelatihan disampaikan secara interaktif oleh Yogi Arfan (Mas Yogi), Pemimpin Redaksi Pasmu. Alih-alih memberikan materi presentasi yang kaku, Mas Yogi memilih untuk langsung membedah konten media sosial milik SPEAM.
“Setelah saya cek media sosialnya SPEAM, kayaknya gak usah saya buatkan materi. Jadi kita nanti langsung membedah. Membedah konten-kontennya SPEAM apa yang menjadi catatan saya, apa yang harus ditingkatkan,” jelasnya.
Ia pun memperkenalkan konsep *Search Engine Optimizer* (SEO) dengan bahasa yang mudah dicerna. “Jadi ketika kita mengoptimasi kata kunci terhadap sebuah web atau artikel, artikel tersebut akan dibaca oleh mesin pencari untuk menduduki halaman pertama,” terangnya.
Dia mencontohkan, ketika seseorang mencari “organisasi Islam terbesar di Indonesia” di Google, dan yang muncul di halaman pertama adalah artikel tentang Muhammadiyah, itulah bukti keberhasilan optimasi kata kunci. Strategi ini, lanjutnya, bisa diterapkan untuk mempromosikan pesantren dengan kata kunci seperti **“pondok pesantren terbaik di Pasuruan”**, baik di judul maupun di paragraf pertama konten.
Kunci Konten Menarik dan Eksplorasi Kecerdasan Buatan
Dalam sesi bedah konten, Mas Yogi memberikan kiat menciptakan konten yang engaging. Menurutnya, detik pertama sebuah video adalah kunci penentu.
Hook (pengait) pertama itu pembuka. Kalau *hook* pertama itu menarik, pasti yang nonton akan tetap nonton. Kalau tidak menarik, pasti kebanyakan skip,” tuturnya. Ia memuji salah satu konten SPEAM yang langsung *straight to the point* dan secara visual memanjakan mata.
Pelatihan kemudian berlanjut dengan pengenalan Artificial Intelligence (AI). Peserta dikenalkan pada empat AI populer: ChatGPT, Google Gemini, Meta AI, dan model dari China seperti Gipsy (mungkin merujuk pada DeepSeek).
Melalui demonstrasi langsung, perbedaan karakteristik masing-masing AI ditunjukkan. Misalnya, saat diminta membuat artikel tentang “pondok pesantren terbaik di Pasuruan” dalam Bahasa Jawa, respon setiap AI berbeda. Meta AI cenderung memberi daftar tanpa sumber jelas, ChatGPT langsung memahami konteks dan menyusun paragraf pembuka dengan kata kunci, sementara Gemini dan “Gipsy” fokus pada optimasi mesin pencari.
“Jadi, AI ini bisa menjadi alat bantu, bukan pengganti. Kalian punya ide cerita, tapi bingung menuliskannya? Keluarkan idenya ke AI, biar diolah, lalu kalian yang menyempurnakannya,” pungkas Mas Yogi, mendorong santri untuk memanfaatkan AI sebagai mitra kreatif.
Pelatihan ini tidak hanya berhasil membekali santri dengan teknik digital praktis seperti SEO dan pembuatan konten, tetapi juga membuka wawasan mereka tentang potensi dan batasan teknologi AI. Dengan bekal ini, para santri SPEAM diharapkan tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga kreator konten yang cerdas dan bertanggung jawab, siap menyemarakkan Hari Santri dengan karya di dunia digital.
Laporan: Firnas Muttaqin
Editor: Redaksi








