Tren Gaming di Indonesia 2025: Perbedaan Gaya Bermain Pria dan Wanita

Jumat, 31 Oktober 2025 • 13:10:27 WIB
Tren Gaming di Indonesia 2025: Perbedaan Gaya Bermain Pria dan Wanita
Foto: Tren Gaming di Indonesia 2025: Perbedaan Gaya Bermain Pria dan Wanita | Foto: Jakpat

MON - Bagi banyak orang, bermain gim bukan sekadar hiburan, melainkan juga cara untuk melepas penat setelah menjalani rutinitas yang melelahkan. Berdasarkan hal itu, Jakpat melakukan kajian lebih dalam untuk mengetahui bagaimana masyarakat Indonesia berinteraksi dengan dunia gaming serta bagaimana perilaku mereka membentuk tren industri ini.

Jakpat melakukan survei terhadap 1.203 responden yang membagikan pandangan mereka tentang dunia gaming. Hasilnya menunjukkan bahwa 96% gamer bermain menggunakan perangkat mobile seperti tablet atau ponsel. Sebanyak 28% bermain menggunakan PC atau laptop, sementara 16% menggunakan konsol. Menariknya, dua dari tiga gamer berencana untuk meningkatkan perangkat bermain mereka dalam waktu dekat.

Menurut Septiana Widi Sugiastuti, Research Lead di Jakpat, “Terdapat kesenjangan yang mencolok antara pria dan wanita dalam penggunaan platform PC dan konsol untuk bermain game. Pria cenderung lebih terbuka pada platform yang membutuhkan komitmen lebih besar, baik dari sisi perangkat keras, waktu bermain, maupun tingkat kesulitan permainan.”

Perbedaan preferensi antara gamer pria dan wanita juga terlihat jelas dalam pemilihan genre. Sebanyak 55% pria menyukai genre MOBA (Multiplayer Online Battle Arena), sedangkan 69% wanita lebih menikmati permainan berjenis puzzle. Di posisi ketiga, game strategi menjadi pilihan yang relatif seimbang di antara kedua gender.

Dalam hal judul gim yang paling digemari, Mobile Legends: Bang Bang mendominasi dengan 52% pemain, terutama dari kalangan pria (65%) dibandingkan wanita (34%). Di posisi berikutnya ada Candy Crush Saga yang disukai oleh 30% responden, mayoritas di antaranya wanita (47%). Sementara itu, Roblox menempati urutan ketiga dengan 28% pemain, dengan proporsi pria dan wanita yang hampir seimbang.

Sebanyak tiga dari lima gamer pernah membeli item terkait game. Lebih dari setengahnya melakukan pembelian dalam aplikasi seperti skin, item, atau diamond. Selain itu, 45% responden membeli aksesori pendukung seperti controller dan keyboard, sementara 37% lainnya mengeluarkan dana untuk membeli perangkat utama seperti konsol, PC/laptop gaming, atau ponsel baru.

Dalam tiga bulan terakhir, empat dari sepuluh responden menghabiskan uang antara Rp50.000–Rp100.000 untuk kebutuhan gaming, dengan metode pembayaran e-wallet mendominasi hingga 86%. Ketika terjadi kolaborasi antara brand dan game, satu dari dua gamer tertarik membeli item eksklusif tersebut. Sebanyak 47% tertarik dengan promo belanja yang menawarkan reward, sementara 46% lainnya lebih menyukai merchandise fisik seperti kaos atau aksesori bertema game.

Septiana menambahkan, “Memahami perbedaan preferensi berdasarkan gender menjadi kunci dalam merancang strategi pemasaran yang efektif. Gamer pria cenderung menyukai elemen digital eksklusif dan aspek kompetitif, sementara gamer wanita lebih tertarik pada pengalaman sosial yang menyenangkan, seperti kolaborasi dengan brand makanan. Untuk menjangkau audiens yang lebih luas, penting mengintegrasikan elemen digital seperti hadiah dalam game dengan produk fisik seperti merchandise atau makanan. Pastikan brand tampil relevan dengan gaya hidup para gamer dan aktif di platform seperti TikTok, YouTube Gaming, dan Discord.”

Ingin mengetahui lebih lengkap insight tentang perilaku gaming di Indonesia, termasuk dari mereka yang bukan pemain aktif? Unduh laporan lengkap “Indonesian Gaming Behavior” melalui tautan berikut: https://insight.jakpat.net/indonesian-gaming-behavior/

Bagikan

Berita Lainnya

Semua Berita

Berita Terkini

Semua Berita