Surabaya, MON — Geliat transformasi digital di kalangan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) Indonesia semakin nyata. Berbekal kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), UKM lokal kini tak gentar bersaing di kancah global. Inilah semangat yang diusung dalam acara sosialisasi dan workshop program Digital Creative Entrepreneur (DCE), sebuah inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR) dari Telkomsel melalui Digital Concierge, yang digelar di Surabaya, Kamis (11/12/2025).
Acara yang bertajuk “AI enable SMEs growth, how locals grow global” ini dihadiri ratusan pelaku UKM dari berbagai sektor, dengan fokus pada empat kategori: fashion, food and beverage, personal care, serta produk kerajinan. Program DCE tahun kelima ini secara khusus mengintegrasikan pendekatan berbasis AI untuk memperkuat kapabilitas, kreativitas, dan daya saing bisnis para peserta.
Dalam sambutannya, Andri Kurniawan, perwakilan Telkomsel, menekankan besarnya potensi sekaligus tantangan yang dihadapi UKM di era digital. “Jumlah pelaku UKM di Indonesia ada 26,5 juta. Yang telah mengakses dan mengadopsi program pelatihan teknologi seperti ini baru sekitar 9.000 dalam empat tahun. Artinya, peluang untuk berkembang masih sangat luas,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia mengibaratkan AI sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, bisa dimanfaatkan untuk efisiensi, namun di sisi lain, justru bisa menjadi game changer untuk meningkatkan produktivitas secara signifikan. “AI tidak bisa menggantikan semuanya. Sentuhan manusia (human touch) tetap penting dalam pengambilan keputusan bisnis. AI hadir sebagai alat bantu,” tambah Andri.
Acara ini juga menghadirkan Andry P. Santoso selaku Kepala CSR & Digital Concierge Telkomsel, yang menjelaskan visi program DCE sebagai enabler. “Kami hadir untuk memberikan pemahaman dan pembelajaran. Di era digital, sebuah produk bagus saja tidak cukup. Foto yang menarik, spesifikasi yang jelas, dan strategi pemasaran digital yang tepat adalah kunci. Melalui DCE, kami membantu UKM menguasai hal-hal tersebut,” jelas Andry.
Kisah Sukses: Dari Limbah Keramik hingga Batik Digital ke Pasar Global
Acara semakin hidup dengan kehadiran para praktisi UKM sukses yang menjadi bukti nyata manfaat digitalisasi. Raymond Tjiadi, Co-Founder Lumos Living, membagikan pengalamannya membangun brand keramik ramah lingkungan ‘Reclay’.
Raymond bercerita, tantangan terberat adalah mengolah limbah keramik yang kualitasnya tidak konsisten. “Di sinilah AI kami gunakan. Kami berdiskusi dengan AI, memberikannya prompt spesifik untuk mempelajari jurnal teknik material. Dari sana, kami mendapatkan formula clay yang tepat dari material limbah. Hasilnya, produk kami lebih kuat dan konsisten,” paparnya. Inovasi berbasis AI ini menjadi fondasi bagi mereka untuk berekspansi ke pasar digital global.
Dari sisi fashion, Anne Surya dari Batik Anne Surya, alumni DCE angkatan ke-2, membagikan strateginya menembus pasar internasional. Kunci suksesnya adalah menjaga eksistensi di dunia digital sejak awal. “Kami mulai dari media sosial, lalu merambah ke marketplace, TikTok, live shopping, dan kini AI. Prinsipnya, ikuti setiap gelombang tren digital. Eksis di platform global, maka peluang pasar global akan datang,” ujar Anne. Bisnis batiknya kini telah go international berkat strategi digital yang konsisten.
Program DCE: Bekal Komprehensif dari Mentoring hingga Pendanaan
Hadir sebagai narasumber, Hari (nama lengkap Hadi Sucipto), perwakilan penyelenggara DCE, memaparkan alur program yang sepenuhnya gratis ini. Pendaftaran yang dibuka melalui QR code dan website akan diseleksi secara ketat. “Tahun lalu, dari 2.700 pendaftar, hanya 500 yang masuk tahap bootcamp. Setelah melalui pembinaan dan mentoring intensif, terpilih 12 finalis yang akan digembleng lebih lanjut sebelum puncak acara Awarding Night,” jelas Hari.
Selain mendapatkan pendampingan dari para ahli dan mentor berpengalaman, peserta juga berkesempatan mendapatkan pendanaan awal (seed funding). Selama empat tahun berjalan, DCE telah membantu lebih dari 680 UKM untuk ‘naik kelas’. “Tahun ini, kami fokus membekali peserta dengan *AI tools* untuk mempercepat pertumbuhan dan memperkuat brand yang berdampak sosial,” pungkasnya.
Acara yang dimoderatori dengan interaktif ini juga dihadiri oleh Rachmad Septiarno dari Telkomsel, serta Arief Marwadi sebagai Head Mentor. Sesi tanya jawab yang antusias menunjukkan besarnya minat UKM Surabaya dan Jawa Timur untuk bertransformasi, bertahan, dan bersaing secara global dengan memanfaatkan teknologi digital dan AI sebagai tulang punggung pertumbuhan. (*)
Penulis : Firnas Muttaqin
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Rilis resmi Telkomsel - Digital Creative Entrepreneur (DCE) / MON.








