Pasuruan, MON – Walikota Pasuruan, Adi Wibowo, memimpin acara Istighosah dan Doa Bersama bertajuk “Jogo Kota Pasuruan Aman” di depan Kantor Walikota Pasuruan, Jalan Pahlawan, pada Senin malam (13/10).
Acara tersebut menjadi manifestasi dari komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat modal sosial dan spiritual dalam menjaga kondusivitas kota.
Lebih dari 300 elemen masyarakat hadir, menunjukkan tingginya komitmen bersama lintas sektor. Tampak hadir Wakil Walikota, jajaran Forkopimda (termasuk Kapolres dan Dandim), Ketua DPRD, serta perwakilan ulama dari berbagai organisasi keagamaan besar seperti NU dan Muhammadiyah. Selain itu, perangkat daerah, anggota TNI/Polri, Banser, hingga utusan RT/RW turut serta, melambangkan guyub rukun (kebersamaan) seluruh warga kota.
Warisan Kota Santri dan Keharmonisan
Dalam sambutannya, Walikota Adi Wibowo menyampaikan rasa syukur atas anugerah kebersamaan dan kerukunan yang telah terjalin di Pasuruan. Ia menekankan bahwa keharmonisan ini adalah warisan luhur dari para kiai, habaib, dan pendahulu, yang menjadikan Pasuruan dikenal sebagai Kota Santri.
“Kita bersyukur diwarisi oleh para kiai, para habaib dengan warisan kebersamaan, warisan Kota Pasuruan sebagai kota santri yang mesti kita jaga bersama-sama,” ujar Walikota.
Menurutnya, tanpa doa dan ikhtiar bersama, cita-cita mewujudkan Pasuruan sebagai kota yang harmonis, indah, dan maju hanya akan menjadi angan-angan belaka. Walikota secara khusus berterima kasih kepada seluruh organisasi keagamaan—termasuk PCNU, Pimpinan Daerah Muhammadiyah, LDII, dan Al-Irsad—yang memiliki komitmen kuat untuk menjaga persatuan dan kesatuan.
Keamanan Tanggung Jawab Kolektif
Inti dari pesan Walikota adalah penguatan peran masyarakat sipil dalam menjaga ketertiban. Ia mengingatkan bahwa tantangan setiap zaman berbeda, dan di masa kini, menjaga kondusivitas adalah kunci pembangunan.
Walikota secara tegas menyatakan bahwa keamanan dan ketertiban bukan semata-mata tanggung jawab aparat penegak hukum (TNI/Polri), melainkan tanggungjawab seluruh warga.
“Keamanan, ketertiban bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat semata, tapi tentu menjadi tanggung jawab kita semuanya. Kalau masing-masing individu mampu istiqomah, insya Allah manifestasi sosial di Kota Pasuruan akan terwujud,” jelasnya.
Melalui ikhtiar spiritual seperti istighosah ini, Walikota berharap persatuan dan kesatuan yang telah terjalin baik dapat terus menjadi jangkar bagi perencanaan pembangunan. Doa bersama ini menjadi ikrar untuk menjaga anugerah perbedaan sebagai kekuatan dan kekayaan Kota Pasuruan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan istighosah dan doa yang dipimpin oleh para ulama, menandai komitmen bersama seluruh elemen Pasuruan untuk mewujudkan cita-cita “Kota Santri yang berakhlakul karimah” dan memastikan kota tetap aman dari segala ancaman dan hambatan. (*)
Penulis: Firnas Muttaqin
Editor: Ifan Ar Azun








