PPI Gelar Festival dan Luncurkan Buku Susur Sisir Tengger, Inilah Nama Penyairnya

Selasa, 18 November 2025 • 12:45:31 WIB
PPI Gelar Festival dan Luncurkan Buku Susur Sisir Tengger, Inilah Nama Penyairnya
Foto: Peserta Festival Penyair Perempuan Indonesia. Foto: Ist/MON

Jakarta, MON -- Buku puisi berjudul Susur Sisir Tengger karya Penyair Perempuan Indonesia (PPI) diluncurkan dalam kegiatan Festival Penyair Perempuan Indonesia (FPPI), Sabtu (25/11) di Ruang Serba Guna Lantai 4, Perpustakaan Nasional di Jakarta. Selain diluncurkan, buku ini juga didiskusikan.

Hadir dalam kegiatan ini, penyair yang tergabung dalam PPI dari berbagai provinsi, seniman, budayawan, mahasiwa, pelajar dan umum.

Buku Susur Sisir Tengger merupakan buku ke-6 karya PPI hasil perjalanan Pulang ke Kampung Tradisi (PKT) ke-5 yang dilaksanakan di Malang Juli lalu, tepatnya ditengah masyarakat adat Tengger, Kampung Ngadas. Buku berjudul Susur Sisir Tengger ini berisi 105 puisi yang ditulis oleh 25 anggota PPI yang mengikuti PKT tersebut.

Ada empat narasumber yang dihadirkan PPI dalam diskusi ini. Mereka adalah Annisa Rengganis S.I.P M.A (Staff Khusus Menteri Kebudayaan RI Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional), Dr. Sastri Sunarti, M.Hum (Kepala Pusat Riset Manuskrip Literatur dan Tradisi Lisan BRIN), Hety Palestina Yunani (Jurnalis, anggota PPI), Muhammad Ade Putra (Mahasiswa Magister Antropologi Budaya Universitss Gajah Mada) serta Cahyo Sastrowardoyo (Dosen, Duta Baca Jakarta Pusat) selaku moderator.

Sastri Sunarti sang peneliti yang sudah malang melintang menyusuri banyak daerah dan masyarakat adat dengan segala kekayaan tradisinya, menjelaskan, buku Susur Sisir Tengger bukan hanya sekedar puisi dan ditulis sebagai puisi, tapi merupakan puisi perjalanan yang tidak lepas dengan dunia pariwisata. Cara yang dipilih PPI dalam melakukan riset dengan mendatangi langsung daerah atau desa adat yang dipilih selama beberapa hari, lalu menuliskannya menjadi sebuah puisi juga sebuah riset yang patut dihargai.
‘’Susur Sisir Tengger termasuk puisi-puisi perjalanan yang harus diapresiasi. Puisi hasil dari perjalanan ke wilayah masyarakat adat dengan segala kekayaan budaya dan tradisinya.Bicara tentang perjalanan juga berbicara tentang pariwisata, wisata budaya. PPI bukan hanya melestarikan budaya tapi juga mengeksplore satu wilayah yang kaya budaya dan layak dikunjungi oleh wisatawan. PPI bukan hanya melestarikan budaya tapi juga turut menjadikan budaya sebagai sumber ekonomi kreatif bagi masyarakatnya. Maka Saya menyarankan berkomunikasilah dengan Kementerian Pariwisata karena program-program seperti ini harus didukung bukan hanya oleh Kementerian Kebudayaan tapi juga Kementerian Pariwisata,’’ katanya.

[caption id="attachment_1700" align="alignnone" width="261"] Ketua Penyair Perempuan Indonesia (PPI) Kunni saat memberi kata sambutan pada Festival PPI di Jakarta[/caption]

Muhammad Ade Putra penyair muda Indonesia yang sudah menerbitkan banyak buku puisi tunggah serta peraih Anugerah Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan, memandang buku Susur Sisir Tengger sebagai dokumentasi yang mencatat jejak Ngadas sedemikian rupa. Di sini PPI menyaksikan Ngadas dengan kacamata yang lain dan menjadikan puisi sebagai jalan pulang. Ade Putra juga menyatakan PPI dan perempuan-perempuan yang tercatat dalam buku tersebut merupakan perempuan yang hadir dengan perjuangan dan kekuatan, perempuan sebagai penyambung suara peradaban dan perempuan sebagai penjaga keseimbangan.
‘’Puisi-puisi yang hadir dalam buku Susur Sisir Tengger juga merupakan puisi etnografi yang tumbuh dan menubuh dengan ekologi,’’ kata Ade Putra.

Hety Palestina Yunani yang merupakan perwakilan PPI serta panitia yang mengondisikan sedemikan rupa sehingga PKT bisa dilaksanakan di Ngadas Malang, menceritakan banyak hal tentang Ngadas saat ini dengan segala perubahan dan kearifan yang masih melekat pada tubuhnya. Banyak hal yang bisa dicatat dan dijadikan pelajaran dari perjalanan di Ngadas tersebut. Maka Hety menyebut buku Susur Sisir Tengger adalah karya hasil dari perjalanan yang tak biasa.
‘’Buku Susur Sisir Tengger adalah hasil perjalanan tak biasa, bukan sekadar jalan-jalan tapi menjadi sebuah riset kecil yang kemudian menghasilkan karya yakni puisi. Puisi yang dihasilkan dari riset itu berbeda karena tidak ditulis hanya mengandalkan imajinasi tetapi lebih bertanggung jawab sebagai rekaman perjalanan, dokumentasi peristiwa, bahkan pelestarian tradisi dan budaya yang ditemui dalam perjalanan itu, langsung di tempatnya. Buat anggota PPI khususnya yang ikut PKT, puisi yang seperti ini akan lebih terkenang lebih bermakna dan lebih berkesan,’’ kata Hety.

Bagi Hety sendiri, buku Susur Sisir Tengger ini merekam hal magis yang dialami baik saat dirinya berada di Tengger, khususnya sejak di Rumah Cengger Ayam, di Mesem Cafe & Art Gallery, Padepokan Mangundarmo yang didirikan Ki Soleh Adi Pramono seniman wayang topeng, di Candi Kidal Jago Singosari, maupun saat di Desa Ngadas.
‘’Di Ngadas inilah gambaran perempuan-perempuan penjaga tradisi yang magisnya karena merekalah yang menjaga tradisi dan budaya Tengger. Hasilnya, puisi teman-teman sangat detail merekam apa yang terjadi. Ini terlihat dari kata per kata yang ditemukan selama tiga hari di Malang Raya (kota dan kabupaten). Puisi berdasar tradisi dan riset adalah metode yang patut dilakukan penulis puisi Indonesia,’’ imbuhnya.

Sementara itu, Annisa Rengganis lebih banyak membahas peran pemerintah dalam mendorong dan mendukung komunitas dalam menjalankan program-programnya. Bahkan upaya penguatan komunitas sastra terus dilakukan. Begitu juga dukungan terhadap sastrawan yang memang bergiat dan menjalankan kerja-kerja kesastraannya.

‘’Pemerintah hadir dan mendukung program-program komunitas sastra maupun sastrawannya sendiri. Penguatan komunitas serta penghargaan terhadap komunitas sastra juga terus dilaksanakan. Tentu, kami sangat berterimakasih kepada komunitas-komunitas yang terus berupaya memajukan kebudayaan dengan jalan sastra, termasuk PPI yang hari ini melaksanakan festival sastra melalui Festival Penyair Perempuan Indonesia,’’ kata Nissa pula.

Buku Susur Sisir Tengger berisi 105 puisi, ditulis oleh 25 penyair peserta PKT ke-5 di Malang dan mereka semua tergabung dalam komunitas PPI. Inilah nama-nama penyair tersebut:

26.Alang-Alang Khatulistiwa
27.Ana Ratri
28.Ayu Yulia
29.Berti Nurul Khajati
30.Chie Setiawati
31.Devie Komala Syahni
32.Eva Septiana
33.Heti Palestina
34.Iin Zakaria
35.Ira Pelita
36.Kunni Masrohanti
37.Mezra E Pellondou
38.Mimin Mintarsih
39.Muhammad Ade Putra
40.Nia Kurnia
41.Nunung Noor El Niel
42.Puput Amiranti
43.Ratna Ayu Budhiarti
44.Resty Nurfaidah
45.Rini Intama
46.Rissa Churria
47.Teti Marlina
48.Tri Wulaning Purnami
49.Vironika Sri Wahyuningsih
50.Yoza Veronika

Bagikan

Berita Lainnya

Semua Berita

Berita Terkini

Semua Berita