Ketika Harga Naik Lebih Cepat dari Gaji: Potret Krisis Sunyi di Meja Makan Keluarga Indonesia
Oleh Mahar Prastowo
“Dulu, uang sejuta bisa buat belanja seminggu. Sekarang, dua juta pun tidak cukup.”
Kalimat itu diucapkan oleh__sebut saja Ibu Rani, sambil menatap keranjang belanja yang tak lagi penuh. Di antara sayur, telur, dan beras lima kilo, terselip kalkulator kecil__bukan sekadar alat bantu hitung, tapi simbol bertahan hidup.
Setiap Sabtu pagi, Rani datang ke pasar dengan strategi: catat harga, potong menu, ganti merek, kurangi lauk. Ia bukan satu-satunya.
Data terbaru Roy Morgan mencatat, 44 persen warga Indonesia menyebut menjaga biaya hidup tetap rendah sebagai masalah terpenting bangsa ini — mengungguli isu korupsi, bahkan keamanan.
Inflasi bukan lagi istilah ekonomi di televisi. Ia sudah berubah menjadi aroma dapur yang kosong lebih cepat, meteran listrik yang lebih cepat berbunyi minta ditop up token, dan anak-anak yang bertanya kenapa susu mereka diganti merek.
Krisis di Meja Makan
Menurut BPS, harga beras premium di Jakarta menembus Rp18.000 per kilogram pada Oktober ini, tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Di sisi lain, upah minimum baru naik rata-rata hanya 2–3 persen.
Artinya, gaji naik lebih lambat dari harga nasi.
“Dulu saya bisa makan ayam dua kali seminggu, sekarang paling seminggu sekali,” kata Bowo, driver ojek daring.
Ia tidak lagi menabung untuk rumah. Ia menabung untuk bensin.
Ironinya, ia mengantar pelanggan ke mal-mal yang tiap akhir pekan tetap ramai.
Dari luar, kota besar masih berkilau. Tapi di balik lampu-lampu itu, dapur rumah banyak keluarga menyala setengah terang — hemat listrik, hemat gas, hemat harapan.
Negara di Tengah Persimpangan
Pemerintah terus bicara soal pertumbuhan ekonomi 5 persen. Tapi angka itu tidak terasa di piring nasi.
Pertumbuhan itu seperti kapal besar yang berlayar kencang, sementara penumpang di dek bawah tetap basah oleh ombak kecil yang masuk lewat celah.
Subsidi listrik dan BBM sudah disesuaikan, kata pejabat.
Tapi bagi rakyat kecil, penyesuaian itu terasa seperti pengurangan.
Bank Indonesia menahan suku bunga agar rupiah tidak melemah.
Tapi keluarga-keluarga kecil justru melemah duluan: daya belinya, semangatnya, bahkan ketahanannya.
Strategi Bertahan
Di tengah tekanan, keluarga-keluarga kecil mulai berinovasi ala rakyat:
- Arisan belanja online.
- “Patungan gas” antar tetangga.
- Tukar-menukar lauk di grup WhatsApp RT.
Di banyak tempat, solidaritas menggantikan kebijakan.
Dan yang paling menarik, ekonomi rumah tangga ini kini berjalan dengan cara yang lebih efisien daripada rapat kabinet: cepat, spontan, dan saling memahami.
Namun tak semua bisa bertahan. Beberapa keluarga mulai berutang di aplikasi online — bukan untuk beli barang, tapi untuk bertahan hidup.
“Pinjam 500 ribu, bayar seminggu,” kata Rani lirih. “Kalau tidak, anak saya tidak bisa jajan sekolah.”
Krisis yang Tak Terdengar
Krisis ini tidak seperti pandemi. Tidak ada sirene ambulans, tidak ada pemberitaan harian.
Tapi dampaknya lebih luas, lebih diam-diam. Krisis ini hadir setiap kali ibu rumah tangga membuka dompet dan menutupnya kembali.
Setiap kali ayah pulang kerja lebih malam, bukan karena lembur, tapi menunggu macet reda agar hemat bensin.
Krisis ini ada di obrolan warung kopi, di grup keluarga, di angkutan umum setiap pagi.
Sebuah krisis yang sunyi — tapi nyata.
Harapan di Ujung Bulan
Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan tunai atau operasi pasar.
Yang dibutuhkan adalah kejelasan arah: kebijakan pangan yang berani, pengendalian distribusi yang transparan, dan keberpihakan yang nyata pada keluarga kelas menengah bawah.
Karena, sebagaimana kata seorang ibu di pasar:
“Kalau perut kenyang, kita bisa sabar. Tapi kalau lapar, apa pun bisa jadi masalah.”
Mungkin di situlah letak kesejahteraan yang sebenarnya — bukan pada angka pertumbuhan, tapi pada seberapa tenang seorang ibu menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya di pagi hari.
Tulisan ini bukan sekadar angka dan data. Ini tentang kehidupan sehari-hari yang pelan-pelan makin mahal, dan perjuangan rakyat kecil yang diam-diam menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi bangsa.