Surabaya, MON – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur memperkuat komitmennya dalam mewujudkan visi “Peduli Setara dan Berdaya Wajah Humanis Jawa Timur Masa Kini” melalui sinergi program antara Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur.
Kepala Dinsos Provinsi Jawa Timur, Dra. Restu Novi Widiani, M.M., dan Kepala DP3AK Provinsi Jawa Timur, Dr. Tri Wahyu Liswati, M.Pd, hadir bersama Nur Hayati, salah satu penerima bantuan Kewirausahaan Inklusif dan Produktif (KIP) Jawara, membahas strategi percepatan penurunan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat rentan, khususnya Perempuan di Radio Suara Surabaya, Senin pagi (27/10/2025).
Fokus Dinsos Jatim: Tiga Pilar Program Prioritas
Novi (sapaan akrab Kepala Dinsos) menjelaskan bahwa Dinsos Jatim fokus pada tiga isu utama, selain terus berkutat pada masalah pendataan.
1. Pendataan: Mendukung penggunaan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSN) yang mencakup Desil 1-10 seluruh penduduk se-Indonesia. Data tunggal ini diharapkan membuat program kementerian lebih terpadu dan pengukuran penurunan kemiskinan lebih akurat.
2. Sekolah Rakyat: Mendukung program nasional Sekolah Rakyat, di mana Jawa Timur mengelola 26 lokasi bersama pemerintah kabupaten/kota.
3. Bantuan Sosial (Bansos): Penyaluran bantuan, termasuk Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS) sebesar Rp300.000 per bulan untuk Oktober, November, dan Desember bagi penduduk yang terdata.
Secara filosofis, program Dinsos beroperasi pada tiga pilar:
• Perlindungan dan Jaminan Sosial (untuk masyarakat rentan yang sudah tidak berdaya).
• Pemberdayaan Ekonomi (peningkatan pendapatan, seperti program untuk pekerja perempuan).
• Penguatan Program di kantong-kantong kemiskinan.
Putri Jawara: Intervensi untuk Perempuan Kepala Keluarga
Menjawab masalah tingginya angka perempuan yang menjadi tulang punggung utama keluarga (akibat cerai mati, cerai hidup, atau suami sakit/PHK), Dinsos Jatim meluncurkan program Putri Jawara (Perempuan Untuk Tangguh Mandiri Menuju Jawa Timur Sejahtera).
“Angka perempuan pencari nafkah utama terus meningkat. Kalau kita tidak kuatkan, keparahan kemiskinan akan dalam,” tegas Novi.
KIP Jawara adalah bentuk perhatian Pemprov Jatim yang responsif gender. Dinsos mengalokasikan bantuan modal usaha (cash transfer) sebesar Rp3 juta kepada penerima yang memenuhi kriteria, yakni: perempuan pencari nafkah utama, produktif, sehat jasmani rohani, dan berada di Desil 1-5 DTSN.
Kutipan Kunci: “Bansos itu sementara, berdaya itu selamanya. Itu yang konsepnya sekarang.” – Dra. Restu Novi Widiani, M.M., Kepala Dinsos Jatim.
Sinergi Kuat DP3AK: Fokus pada Kelompok Perempuan Rentan
Liswati (sapaan akrab Kepala DP3AK), menggarisbawahi kolaborasi erat antar-OPD yang membuat pembangunan Jatim sangat responsif gender, terbukti dengan capaian 5 kali berturut-turut penghargaan Parahita Eka Praya.
DP3AK fokus pada pemberdayaan kelompok perempuan rentan, yang sasarannya meliputi:
• Perempuan penyintas kekerasan.
• Perempuan kepala keluarga (termasuk yang suami tidak bekerja/sakit).
• Janda (cerai mati atau cerai gugat/talak).
• Perempuan dengan kondisi khusus (memiliki anak disabilitas atau lansia yang harus dipenuhi kebutuhannya).
“Kami lakukan assessment karena kebutuhan para perempuan ini berbeda satu dengan yang lainnya, seperti perempuan di tepian hutan, tepian lautan, atau di perkotaan,” jelas Liswati.
Setelah pelatihan dan pendampingan dari DP3AK, para perempuan ini disinergikan dengan Dinsos untuk mendapatkan bantuan permodalan melalui KIP Jawara. Pada tahun pertama ini, sebanyak 40 orang telah lolos KIP Jawara hasil assessment Dinsos.
Kisah Inspiratif Ibu Nur Hayati, Jawara Ojek Online
Nur Hayati (56), salah satu penerima KIP Jawara, berbagi kisah perjuangannya sebagai driver ojek online sejak tahun 2016 untuk menafkahi dua putranya setelah suaminya sakit. Berkat usahanya, kedua anaknya berhasil kuliah, salah satunya di UNAIR melalui program Bidik Misi.
Ibu Nur mendapatkan kesempatan bantuan KIP Jawara setelah aktif mengikuti kegiatan pengajian rutin di DP3AK. Bantuan ini memungkinkannya untuk mengembangkan usaha lain, seperti jualan Tahu Bakso.
DP3AK terus memantau dan memberikan pelatihan bertingkat (leveling) kepada penerima manfaat. Contohnya, melalui beauty class yang melatih mereka menjadi Make-up Artist (MUA) agar memiliki keterampilan tambahan selain profesi utamanya, sehingga terjadi peningkatan pendapatan (empowering).
“Kami tetap masih terus dipantau, masih terus ada pemantauan… kami ingin mereka tidak sekedar bisa, tapi menjadi expert,” tutup Ibu Liswati. (*)
Laporan : Firnas Muttaqin
Editor: Eko TW
Sumber: Radio Surabaya








