INHU, MON – Sudah lazim kalau urusan anggaran Bantuan Oprasional Sekolah (BOS),Dana Alokasi Khusus (DAK) atau sejenisnya akan jadi perhatian masyarakat,khususnya orang tua atau wali murid. Bahkan baru baru ini perhatian masyarakat telah banyak teralih keurusan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun ada beberapa hal atau soal remeh temeh yang sesungguhnya penting memperoleh perhatian dari orang tua bahkan sekolah itu sendiri, demi menunjang kegiatan belajar mengajar anak didik di sekolah. Apa itu ? Adalah serangkai kebutuhan anak atau para murid di setiap hari.
Kita sudah tahu hampir semua sekolah memperhatikan ketertiban berlalu lintas bagi anak anak, dengan peraturan tertentu. Ada yang melarang para siswa dan siswi berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Ini dilakukan oleh sekolah sekolah dasar dan menengah pertama.
Sementara untuk SMA sejajar pada umumnya penggunaan kendaraan di perbolehkan mengingat usia anak didik juga dianggap cukup matang memahami tata cara mengemudi kendaraan di jalan.
" Meskipun demikian keberadaan kendaraan di tangan anak anak mesti perlu perhatian ,misal soal pemarkiran dan anjuran untuk tidak ngebut di jalan " gagas salah seorang wali murid,Budi dari desa Bukit Lipai kecamatan Batang Cenaku kabupaten Indragiri hulu (Inhu) saat berbincang dengan awak Media Online Nasional (MON) belum lama ini.
Hal remeh temeh satu lagi adalah di seputar urusan makanan dan jajanan. Pada mumnya orang tua di rumah menyediakan sarapan anak anak dengan pengolahan yang cukup sehat. Sudah barang pasti karena ini akan dikosumsi oleh si buah hati.
Kendati demikian, masih ada orang tua,khususnya ibu ibu lalai dalam persoalan yang satu ini. Saat mereka ,para ibu ibu kesiangan bangun pagi,atau malas mengolah makanan tentu mereka akan memilih untuk memberikan uang sangu lebih dengan tujuan agar anaknya bisa sarapan di kantin sekolah.
Walhasil, anak anakpun mau mau saja, terlebih dengan uang di tangan bisa bebas membeli apa saja. Memang selama ini khususnya di wilayah kecamatan Batang Cenaku belumlah ada kejadian fatal akibat sembarang makanan atau jajanan.
Namun, perkara yang satu ini juga pelik untuk diduga. Sebab, namanya makanan atau jajanan banyak dijual di jalanan. Bukan hanya kantin yang dimakan akan tetapi istilahnya jalanan pun di telan. Maksudnya ini adalah makanan.
Menyikapi hal ini, beberapa orang tua atau wali murid di wilayah kecamatan Batang Cenaku berpendapat ada cara efektif yang kudu dilakukan, baik oleh sekolah ataupun ibu ibu dirumah. Kesehatan jiwa raga anak didik adalah kesehatan generasi Indonesia dalam jangka panjang.
Hingga demikian, peranan yang dimaksud sangat penting dilakukan. Misal, ibu ibu rutin melakukan komunikasi dengan anak juga si pemilik tempat jualan makanan. Ibu ibu bisa bertanya secara detail kepada anak tentang makan di mana, minum dimana dan sama siapa.
Peran sekolah juga sangat penting dalam urusan ini. Sekolah bisa melakukan pemeriksaan ramah terhadap beberapa kedai penjual makanan yang selalu dikunjungi anak didik. Tak hanya kantin sekolah,namun di seberang jalan sana juga banyak kedai jajanan. Ini bisa dilakukan pendekatan sosial oleh sekolah dengan tujuan memperoleh keyakinan bahwa makanan dan jajanan dalam aman.
" Selamat siang ibu, mohon maaf mengganggu, anaknya sakit perut di sekolah mohon dijemput " demikian bunyi suara dari telpon dari guru belum lama ini kepada seorang ibu berinisial SA (40) .
" Oh, iya..anaku tidak sarapan pagi tadi,tapi aku kasih uang buat sarapan dan jajan, apa lupa dia sarapan ya " desis sang Ibu dalam hati diadukan kepada awak media ini.(*)