Jelang Idul Adha 1447 H Ketua DPRD Kota Depok, H. Ade Supriyatna, S.T., M.A.P., Sampaikan Refleksinya

Penulis: Diana Hanny A.G  •  Senin, 25 Mei 2026 | 08:28:00 WIB
Ketua DPRD Kota Depok H. Ade Supriyatna.

Depok, MON – Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan yang identik dengan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Adha mengandung pesan spiritual, sosial, dan kemanusiaan yang mendalam tentang keikhlasan, pengorbanan, kepedulian, hingga tanggung jawab menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua DPRD Kota Depok dari Fraksi PKS, H. Ade Supriyatna, S.T., M.A.P., dalam refleksinya menjelang Idul Adha 1447 H.

Politikus yang akrab disapa AdeS atau Bang Ade itu menilai masyarakat perlu memahami Idul Adha secara lebih utuh agar nilai ibadah kurban tidak berhenti pada aspek ritual semata.

Baginya, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan ketundukan total kepada Allah SWT, keikhlasan dalam berkorban, serta pentingnya menempatkan nilai iman di atas kepentingan pribadi. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini.

“Dalam setiap momen keagamaan, pemerintah daerah harus memperkuat komunikasi dan kesepahaman dengan pemuka dan lembaga agama agar arahan moral dan teknis yang dikumandangkan secara jelas diterima dan dilaksanakan oleh birokrasi dan masyarakat,” ujar AdeS, Senin (25/05/2026).

Ia menjelaskan, momentum keagamaan seperti Idul Adha tidak cukup dipahami hanya dalam dimensi ibadah personal, tetapi juga harus menjadi ruang membangun kesadaran sosial dan memperkuat harmoni masyarakat.

Komunikasi yang baik antara pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat menjadi penting agar pesan-pesan keagamaan mampu diterjemahkan dalam kehidupan nyata.

Dalam perspektif sosial, Idul Adha juga mengajarkan pentingnya empati terhadap sesama, terutama masyarakat yang membutuhkan. Distribusi daging kurban bukan hanya bentuk pembagian makanan, melainkan simbol kepedulian sosial dan pemerataan kebahagiaan di tengah masyarakat.

AdeS memandang semangat berbagi dalam Idul Adha perlu terus dikampanyekan agar tumbuh budaya gotong royong dan saling membantu di tengah kehidupan masyarakat perkotaan yang semakin individualistis.

“Secara moral, perlu dikampanyekan semangat ketaatan kepada Allah SWT dan saling membantu antarwarga,” katanya.

Nilai pengorbanan dalam Idul Adha, lanjutnya, sejatinya tidak selalu dimaknai dalam bentuk materi. Pengorbanan juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial, membantu tetangga yang kesulitan, menjaga persaudaraan, hingga memperkuat solidaritas di tengah masyarakat.

Selain memiliki dimensi spiritual dan sosial, AdeS turut menekankan pentingnya pelaksanaan Idul Adha yang tertib dan sehat. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab memastikan proses perdagangan dan distribusi hewan kurban berjalan aman serta memenuhi standar kesehatan dan syariat Islam.

Hal tersebut penting karena hewan kurban yang sehat bukan hanya berkaitan dengan kualitas ibadah, tetapi juga menyangkut perlindungan kesehatan masyarakat.

“Secara teknis, harus diatur agar kegiatan perdagangan hewan dapat berlangsung tertib, aman, dan memastikan seluruh hewan yang didistribusikan ke Depok dalam keadaan sehat dan sesuai syariat,” jelasnya.

Pengawasan terhadap kesehatan hewan kurban, menjadi bagian penting dari pelayanan publik untuk memastikan masyarakat memperoleh rasa aman saat menjalankan ibadah kurban. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, petugas kesehatan hewan, pedagang, dan panitia kurban perlu diperkuat.

Lebih lanjut, AdeS menilai keberhasilan membangun masyarakat yang religius dan harmonis tidak dapat dilepaskan dari peran besar tokoh agama, pembimbing rohani, dan lembaga keagamaan yang selama ini aktif memberikan edukasi moral di tengah masyarakat.

Para pembimbing rohani, bukan hanya berfungsi menyampaikan ceramah keagamaan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keteduhan sosial, memperkuat pendidikan karakter, dan membangun kesadaran hidup bermasyarakat.

Atas dasar itu, ia mendorong adanya dukungan nyata dari pemerintah daerah terhadap ruang-ruang pembinaan keagamaan, termasuk melalui fasilitasi dan dukungan bagi para pembimbing rohani.

“Komunikasi dan kesepahaman yang baik dengan pemuka dan lembaga keagamaan perlu diperkuat dengan fasilitasi dan dukungan kinerja seperti insentif pembimbing rohani, sehingga ruang pencerahan untuk masyarakat dapat diperankan dan mendapat dukungan masif dari pemerintah daerah,” tuturnya.

Menutup pernyataannya, AdeS berharap Idul Adha tahun ini menjadi momentum memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT sekaligus mempererat hubungan antarsesama.

Ia mengajak masyarakat menjadikan ibadah kurban sebagai sarana membangun kepedulian sosial, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kemanfaatan bersama di tengah kehidupan masyarakat Kota Depok.

“Esensi terbesar Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, melainkan bagaimana nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat demi terciptanya kemaslahatan bersama,” tutupnya.(Hanny)

Reporter: Diana Hanny A.G
Back to top