Seminar FST UINSA Ungkap Ancaman Mikroplastik pada Rantai Makanan Manusia

Penulis: Firnas Muttaqin  •  Minggu, 15 Maret 2026 | 05:17:05 WIB
Seminar pencemaran mikroplastik digelar di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis (12/3/2026).

SURABAYA, MON – Ancaman mikroplastik yang kini semakin luas menyebar di lingkungan menjadi perhatian dalam Seminar Pencemaran Mikroplastik yang digelar di Gedung Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Ampel Surabaya, Gunung Anyar, Kamis (12/3/2026).

Seminar yang berlangsung pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan lima peneliti muda dari kalangan mahasiswa sebagai pemateri, dengan penanggap Prigi Arisandi, M.Si., pendiri ECOTON.

Kegiatan ini mengungkap berbagai temuan penelitian terbaru mengenai sebaran mikroplastik yang kini telah masuk ke dalam rantai makanan manusia melalui berbagai jalur, mulai dari tanaman pangan hingga hewan.

Salah satu pemateri, Intan Fatimah Az-Zahra, memaparkan hasil penelitian pada capung (Brachythemis contaminata) di wilayah Surabaya yang menemukan sebanyak 47 partikel mikroplastik, didominasi jenis fiber yang diduga berasal dari limbah pencucian pakaian.

“Mikroplastik ini bersifat seperti spons yang menyerap polutan lain. Ketika capung dimakan ikan, lalu ikan dikonsumsi manusia, maka polutan tersebut bisa terakumulasi dalam tubuh,” jelas Intan.

Selain itu, seminar juga memaparkan potensi keberadaan mikroplastik pada pupuk organik guano yang berpotensi terserap tanaman apabila digunakan sebagai pupuk.

Dalam seminar tersebut, para mahasiswa mempresentasikan berbagai penelitian, di antaranya M. Zacky Ammardyas H tentang mikroplastik pada daun padi, Syafa'at Aliffudin A mengenai mikroplastik pada katak dan kodok, Intan Fatimah Az-Zahra terkait mikroplastik pada capung, Kallista Maharani yang meneliti mikroplastik pada kosmetik bibir, serta Eka Febriana Puji Lestari yang meneliti mikroplastik pada guano.

Selain membahas dampak lingkungan, seminar ini juga menyoroti potensi risiko kesehatan akibat paparan mikroplastik. Salah satunya terkait paparan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) pada urin pekerja perempuan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik, Gresik.

Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara paparan zat tersebut dengan peningkatan sel darah putih yang dapat memicu inflamasi kronis.

Sebagai penanggap, Prigi Arisandi menekankan pentingnya perubahan gaya hidup masyarakat serta perlunya kebijakan yang lebih ketat terkait penggunaan plastik sekali pakai.

Ia juga mendorong masyarakat untuk mulai menggunakan produk yang bebas mikroplastik serta menerapkan perlindungan diri bagi pekerja yang bersentuhan langsung dengan limbah. (*)

Reporter: Firnas Muttaqin
Back to top