Ketika Siklus 60 Tahun Menyapa Politik Indonesia 

Penulis: A.A Yuli  •  Senin, 08 Desember 2025 | 16:59:36 WIB
Zeng Wei Jian alias Ken Ken. Foto: Ist

MON -- Ada sesuatu yang menarik ketika kita menengok perjalanan peradaban: banyak hal tampak berjalan dalam putaran yang berulang, seolah hidup bergerak dalam lingkaran besar. Dalam kebudayaan Timur, fengsui mengenal siklus 60 tahunan. Dalam sejarah kuno, peradaban Sumeria melalui sistem bilangan berbasis 60 mewariskan struktur waktu yang kita pakai sampai hari ini: 60 detik, 60 menit, hingga pembagian lingkaran 360 derajat.

Simbolisme “60” ini mungkin sekadar kebetulan. Namun ia juga menghadirkan metafora tentang bagaimana sejarah dan politik sering kali kembali pada pola-pola lama, meski dalam bentuk berbeda. Bahkan pendidikan dasar kita masuk SD usia 6 tahun, belajar 6 tahun, lulus kelas 6 seakan menjadi refleksi kecil dari pola berulang itu.

Menariknya, tahun-tahun yang berada dalam radius enam dekade juga memunculkan paralel yang menggelitik. Tahun 1964 dan 2024 sama-sama berada di bawah tanda Naga, 1965 dan 2025 di bawah tanda Ular, sementara 1966 dan 2026 berada di bawah tanda Kuda. Apakah ini relevan? Tidak harus, tetapi sejarah sering punya selera humor yang tak terduga.

Lihat saja kemiripan atmosfer politik antara dua masa: era Sukarno dan era Prabowo. Dua tokoh dengan gaya retorika kuat, panggung internasional yang luas, dan agenda geopolitik besar. Bedanya, Prabowo tidak mengulang gaya hidup romantis Bung Karno yang terkenal flamboyan. Namun kesamaan karisma dan ambisi tidak bisa diabaikan begitu saja.

Enam puluh tahun lalu, Indonesia berada di titik didih Perang Dingin, di mana dunia terbelah antara blok Soviet–China versus AS–NATO. Sukarno mengusung Poros Jakarta–Peking–Pyongyang sebagai manuver politik global. Kini, dunia kembali meruncing ke arah bipolar: AS versus Rusia–China. Dan Indonesia, seperti dulu, kembali mencari posisi strategis melalui BRICS. Sejarah tidak mengulang secara persis, tetapi ia berima.

Paralel lain muncul dari dinamika dalam negeri. Dulu Pahlawan Revolusi menjadi target pembunuhan selektif dalam peristiwa 1965. Sekarang kita menyaksikan kerusuhan yang sewaktu-waktu dapat menyasar tokoh politik tertentu bila mereka kebetulan berada di lokasi yang salah pada waktu yang salah. Bentuknya berbeda, tetapi pola kerentanannya terasa serupa.

Perpecahan elite juga kembali menghadirkan drama. Pada era Sukarno, jenderal-jenderal terbelah antara pro dan kontra. Kini muncul kutub baru antara poros LBP dan SS, lengkap dengan isu rivalitas preferensi militer AD versus AU walau tentu tidak sekeras dan seterbuka pada 1960-an. Kekuasaan, seperti magnet, selalu melahirkan dua kutub yang saling tarik-menarik.

Sementara itu, kebijakan ekonomi pun menghadirkan gema masa lalu. Bila dulu kita mengenal sanering, kini muncul wacana redenominasi. Harapannya, tahun 2026 tidak lagi memunculkan gelombang protes mahasiswa seperti Angkatan ’66, sebab turbulensi sosial sering kali meminjam roh sejarah yang belum tuntas.

Kemunculan kembali “PKI” juga menarik, meski kini berubah makna: bukan lagi Partai Komunis Indonesia, tetapi “Partai Koruptor Indonesia” istilah sinis masyarakat terhadap elite yang gagal menjaga integritas. Dan seperti Tritura 1966 yang terkenal, tuntutan publik hari ini juga berputar pada tiga hal: bubarkan “PKI” versi baru tadi, rombak kabinet, dan turunkan harga pangan. Lagi-lagi, sejarah berima.

Di luar politik praktis, isu “Wahyu Mahkutoromo” yang sempat dilontarkan Arief Poyuono saat jelang Pilpres 2024 yang menambah bumbu mistis ala budaya Jawa. Bahwa wahyu Makutoroma tersebut jatuh ke Prabowo, kini muncul pertanyaan baru: siapa pembawa wahyu Mahkutoromo Poyuono bahkan menyebut nama Bawor Sutedja sebagai pemegang sementara. Yang akan di serahkan pada seseorang

Dan saya adalah salah satu yang mencoba membaca arah arus ini, meski tafsirnya kerap berada di antara analisis politik dan intuisi spiritual.

Pada akhirnya, apakah semua kemiripan ini sekadar kebetulan? Ilusi pola? Atau memang ada ritme sejarah yang berputar setiap enam dekade? Sejarah tak pernah berbicara secara terang. Ia hanya mengulang dirinya dalam wujud berbeda dan menyerahkan kepada kita untuk menafsirkan siapa tokoh berikutnya yang akan memegang peran besar dalam siklus 60 tahun yang akan datang.

Reporter: A.A Yuli
Back to top