Jakarta, MON -- Setelah gempuran amat dahsyat dari netizen dan kelompok suporter--terlebih atas permintaan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan evaluasi - Kluivert werd uiteindelijk ontslagen (Kluivert akhirnya dipecat) pada Kamis (15/10/2025).
Langkah cepat ini dilakukan PSSI agar buntut dari kegagalan tim nasional di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup B zona Asia tidak berkembang ke arah negatif. Jujur saja, langkah cepat dan tanggap seperti ini jarang dilakukan PSSI.
Karenanya, keputusan positif ini mesti diikuti sikap lebih hati-hati dalam memilih calon pengganti. Kedepankan kepentingan yang jauh lebih besar. Sikap tergesa-gesa seperti saat memberhentikan Shin Tae-yong dan menunjuk Patrick Kluivert tidak boleh terulang.
Rekam jejak pelatih yang dipilih harus menjadi pertimbangan utama. Dengan begitu, kita bisa yakin pelatih tersebut mampu memberikan sesuatu yang diharapkan. Itu pun belum menjamin impian tampil di Piala Dunia akan tercapai. Namun jika semua catatan terbaik sudah tersaji, kerja keras dan peningkatan kualitas sudah terlihat, maka keberhasilan atau kegagalan hanyalah urusan nasib.
Kita pernah dua kali gagal, tetapi rasa hormat pendukung terhadap tim tetap tinggi. Tahun 1975, tim asuhan Wiel Coerver gagal lolos ke Olimpiade Montreal 1976 setelah kalah adu penalti dari Korea Utara. Namun 100 ribu penonton di Stadion Utama Senayan tetap memberi applause bagi para pemain.
Hal serupa terjadi pada 1985 saat timnas asuhan Sinyo Aliandu. Kita kalah dari Korea Selatan (0-2 di Seoul dan 1-4 di Jakarta) dalam kualifikasi Piala Dunia 1986. Meski gagal, dukungan publik tidak surut—meski kala itu belum ada media sosial, sambutan suporter begitu hangat.
Para pendukung sungguh memahami kondisi yang ada. Secara teknis, baik tim 1975/76 maupun 1985/86 tidak kalah dari lawannya. Hanya nasib belum berpihak.
Ke depan, PSSI harus benar-benar cermat dalam menentukan pilihan. Siapa pun yang dipilih nanti, harus diyakini bisa membawa kemajuan—syukur-syukur mampu mengantar timnas ke panggung Piala Dunia 2030.
Yang penting, keputusan jangan berdasarkan emosi. Jika semua proses sudah dilalui dengan matang namun hasilnya tetap belum sesuai harapan, berarti itu faktor nonteknis. Mudah-mudahan kegagalan seperti itu tidak terulang.
Sehebat apa pun pelatih dan pemain, proses harus dijalani. Tak ada prestasi datang tiba-tiba. Tak mungkin ada keberhasilan tanpa persiapan. Dan tak akan ada persiapan terbaik tanpa orang-orang yang tepat.
Saat ini timnas U-17 kita akan berlaga di Piala Dunia. Sudah saatnya kita berikan apresiasi tinggi untuk mereka.
Semoga bermanfaat.(*)