INHU, MON – Baru baru ini telah ditemukan satu umbi ubi kayu berbobot mencapai 15 kg. Ubi tersebut ditemukan oleh seorang warga desa Bukit Lipai kecamatan Batang Cenaku kabupaten Indragiri hulu (Inhu), Yanto (45) di halaman rumahnya sendiri yang berada di wilayah dusun 03.
Yanto mengaku heran dengan pertumbuhan ubi kayu yang tumbuh di halaman rumahnya itu. ubi kayu itu tumbuh dibiarkan saja liar hingga pohonnya menjulang tinggi dan panjang tak terurus. Namun pada saat Yanto hendak membersihkan halaman rumahnya itu tiba tiba ia berhasrat ingin membuang pohon ubinya itu.
Awalnya Yanto hanya ingin mencabut ubi itu saja dengan menggunakan tanggannya. Namun ternyata tenaganya tak mampu membedol ubi kayu tersebut hingga buahnya terangkat. Kemudian digalilah pohon ubi itu sedikit demi sedikit,lalu ? Betapa kagetnya Yanto melihat buah atau umbi ubinya ternyata super besar. Ukuran jumbo dan ia mengaku tidak pernah melihat ubi sebesar itu.
" saya tidak pernah melihat ubi sebesar ini " katanya saat dikonfirmasi awak media belum lama ini.
Hari ini, Jumat (11/09/2026) ubi tersebut telah raib entah kemana. Tapi yang jelas ini adalah kejadian nyata dan disaksikan para tetangga Yanto. Menurut Yanto berkemungkinan ubi itu sudah dicacah cacah oleh ayahnya sebagai makanan ayam. Yanto juga berkata apalah arti ubi yang sudah dicabut dan hanya satu saja,sehingga ia pun tak begitu memperhatikan letak atau tempat tersimpan umbi raksasanya itu.
" Ya udah setelah aku cabut lalu aku geletakan saja di halaman rumah. Mungkin saja diambil bapak lalu dicacah buat makanan ayam " pungkas Yanto.
Menyikapi kabar kapas namun rel ini, salah seorang petani , Budi (47) menilai bahwa tanah di Riau khususnya di wilayah kecamatan dan desanya itu masih terkesan subur. Menurut Budi,tanpa di urus atau tanpa pupuk sekalipun ubi masih berkembang pesat untuk ditanam sebagai makanan sehat masyarakat.
Budi berkomentar lagi, tanah di wilayahnya itu saat ini banyak dikebuni kelapa sawit. Namun sebagian kecil masyarakat masih ada yang bertani dengan memanfaatkan tanah atau lahan kosong yang ada di lokasi rumahnya. Terkadang mereka menanam cabai,terong,kacang panjang dan lain lain sebagai pelengkap tanaman dan hiburan semata.
Untuk itu Budi berkata, sebaiknya jika nanti masyarakat berkebun kelapa sawit lagi, mesti ada penyisaan lahan agar bisa ditanami palawija sebagai wujud andil pada pemerintah dalam program ketahanan pangan Indonesia. Budi meyakinkan, untuk bertani palawija atau sejenisnya masih mudah dilakukan mengingat struktur tanah dan kondisi lahan masih menjamin kesuburan.
" Ubi sebesar ini hanya berusia 1 tahun dan ini membuktikan betapa masih suburnya tanah kita " tutup Budi.(*)