Mahasiswa Universitas Mpu Tantular Gelar Kunjungan Edukatif ke TMII, Dalami Budaya Minangkabau

Penulis: A.A Yuli  •  Senin, 04 Mei 2026 | 16:02:10 WIB
Sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular melakukan wawancara dengan pemandu saat kunjungan edukatif di Anjungan Sumatera Barat, Taman Mini Indonesia Indah. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran langsung untuk memahami budaya Mina

Jakarta, MON – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular melaksanakan kunjungan edukatif ke Anjungan Sumatera Barat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan mengenai rumah adat, nilai budaya, serta tradisi masyarakat Minangkabau melalui observasi langsung dan wawancara dengan petugas anjungan.

Kunjungan ini didampingi oleh dosen pengampu, Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom. Ia menegaskan bahwa proses pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga melalui praktik langsung di lapangan.

“Proses belajar adalah learning by doing,” ujarnya.

Setibanya di lokasi, Anjungan Sumatera Barat terlihat lebih ramai dibandingkan anjungan lainnya. Rombongan pengunjung tampak antusias mengamati keunikan bangunan dan koleksi budaya yang ditampilkan. Pengunjung datang dari berbagai daerah seperti Sukabumi, Bandung, hingga komunitas pengajian dari Jakarta, yang terlihat dari tanda pengenal yang dikenakan.

Pengunjung yang hadir pun beragam, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, wisatawan domestik, hingga mancanegara. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Sumatera Barat memiliki daya tarik besar dan penting untuk terus diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Petugas anjungan yang bertugas sebagai pemandu terlihat ramah dan sigap dalam melayani pengunjung. Mereka memberikan penjelasan mengenai berbagai aspek kebudayaan Minangkabau, khususnya Rumah Gadang sebagai rumah adat masyarakat Sumatera Barat.

Menurut penjelasan petugas, Rumah Gadang memiliki ciri khas atap runcing ke atas yang disebut gonjong, menyerupai tanduk kerbau. Bentuk ini berkaitan dengan asal-usul nama Minangkabau dari kisah “manang kabau” (menang kerbau). Rumah Gadang juga memiliki keunikan dalam pembagian ruang, yang disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga, terutama perempuan, karena garis keturunan dalam adat Minangkabau ditarik dari pihak ibu.

Selain Rumah Gadang, terdapat pula bangunan adat lain seperti balerung (tempat acara adat), surau (tempat ibadah dan pendidikan), serta rangkiang (lumbung padi). Dalam wawancara tersebut juga disampaikan bahwa nilai utama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Minangkabau adalah agama.

Gloria, salah satu mahasiswa Fakultas Hukum, mengungkapkan bahwa kunjungan ini sangat bermakna.

“Kegiatan ini sangat menyenangkan, karena kami bisa belajar sambil healing,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Fakultas Hukum, Dr. Appe Hutauruk, menilai kegiatan ini perlu terus dipertahankan sebagai bentuk kolaborasi pembelajaran. Ia juga menekankan pentingnya metode 5W+1H dalam menunjang capaian pembelajaran mahasiswa.

Di akhir kegiatan, Srimulat selaku ketua kelompok memaparkan hasil diskusi dan observasi. Ia menjelaskan filosofi Minangkabau, yaitu adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah, yang berarti adat didasarkan pada ajaran agama, dan agama berpedoman pada kitab suci.

Kunjungan ini juga dilengkapi dengan penjelasan mengenai pakaian adat dan perlengkapan pernikahan Minangkabau. Salah satunya adalah suntiang, hiasan kepala pengantin perempuan, serta tradisi malam bainai, yaitu prosesi pemberian daun pacar sebagai simbol doa dan restu keluarga.

Berbagai pakaian adat dari daerah di Sumatera Barat seperti Pariaman, Bukittinggi, Padang, Mentawai, Solok Selatan, Sijunjung, dan Dharmasraya turut dipamerkan dengan ciri khas masing-masing.

Serepina menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan budaya.

“Generasi muda perlu mengenal dan mencintai budaya daerah agar warisan leluhur tidak punah,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang keberagaman budaya Indonesia serta pentingnya menjaga warisan budaya bangsa. Model pembelajaran di luar ruangan (outdoor learning) dinilai efektif untuk menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa.

Penulis: AA. Yuli

Reporter: A.A Yuli
Back to top