Direktur Utama RSUI dr. Kusuma Januarto, Sp. OG., Subsp.Obginsos., Beri Apresiasi Atas Kolaborasi Bersama BSSN

Penulis: Diana Hanny A.G  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 21:32:55 WIB
Direktur Utama RSUI dr. Kusuma Januarto saat membuka seminar dan workshop keamanan siber hasil kolaborasi RSUI dan BSSN di Auditorium RSUI.

Depok, MON – Mengawali rangkaian kegiatan, Direktur Utama RSUI, dr. Kusuma Januarto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang dilakukan bersama BSSN. Ia mengingatkan bahwa,
“Transformasi digital meningkatkan kecepatan dan efesiensi layanan rumah sakit, tetapi juga dapat mendatangkan risiko kerawanan siber baru. Oleh karena itu, penguatan perlindungan terhadap kerahasiaan data medis pasien sebagai tanggung jawab bersama.”

Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 8-9 Juli 2026 ini diselenggarakan sebagai wadah untuk membangun ruang kolaborasi jangka panjang demi mencapai ekosistem digital kesehatan nasional yang aman, tangguh, terpercaya, dan berdaulat. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 70 rumah sakit yang turut berpartisipasi dalam memperkuat komitmen terhadap keamanan siber di lingkungan layanan kesehatan.

Dalam upaya mengoptimalkan layanan kesehatan dan memperkuat sistem keamanan data medis, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggelar Seminar dan Workshop dengan mengangkat judul “Fortifying The Digital Hospital: Strategi Keamanan Siber Berbasis Standar Nasional Menuju Transformasi Layanan Kesehatan Indonesia” di Auditorium RSUI. Jumat (10/07/2026)

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Deputi III Bidang keamanan Siber dan Sandi Pemerintahan dan Pembangunan Manusia BSSN, Dr. Sulistyo, S.Si, S.T., M.Si. Dalam pemaparannya, ia menegaskan pentingnya perlindungan aset digital fasilitas kesehatan seperti rekam medis elektronik hingga layanan telemedicine yang kini terintegrasi melalui platform SatuSehat.

“Gangguan pada sistem teknologi informasi di rumah sakit bukan lagi sekedar insiden administratif biasa, melainkan ancaman nyata yang dapat berdampak langsung hingga pada keselamatan nyawa pasien,” tegas Sulistyo dalam keynote speech-nya.

Guna memitigasi risiko tersebut, BSSN berkomitmen untuk mendampingi instansi fasilitas kesehatan melalui bimbingan teknis intensif dalam pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS). Langkah ini menjadi upaya strategis untuk memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan dalam menghadapi insiden siber sekaligus menjawab berbagai tantangan di lapangan, mulai dari komitmen jajaran manajemen, kompleksitas integrasi sistem, penyesuaian anggaran, hingga pemenuhan kompetensi dan ketersediaan sumber daya manusia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Operasional RSUI, dr. Tommy Dharmawan, Sp.B.T.KV., Subsp.JD(K), Ph.D., menegaskan pentingnya langkah preventif dalam memperkuat keamanan siber di lingkungan rumah sakit. Menurutnya, keamanan siber merupakan aspek penting dalam layanan rumah sakit, yang berkaitan erat dengan mengelola data pasien dan informasi kesehatan yang bersifat sangat rahasia. Penguatan sistem keamanan informasi menjadi sebuah keharusan untuk melindungi data pasien serta menjamin keberlangsungan layanan.

Sesi diskusi panel kemudian memperdalam aspek regulasi bersama Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pembangunan Manusia BSSN, Dr. Lukman Nul Hakim, S.E., M.M. Ia menjelaskan aturan nasional yang mewajibkan fasilitas kesehatan untuk membangun TTIS secara sistematis melalui tahapan persiapan hingga evaluasi yang dilakukan secara berkala.

Menanggapi hal tersebut, Manajer SIMRS dan TI RSUI, Dr. Ir. Ahmad Firdausi, S.T., M.T., IPM, membagikan pengalaman internal rumah sakit. RSUI sendiri telah menginisiasi pembentukan TTIS sejak 2024 lalu sebagai bentuk kesiapan awal.

Selain itu, Business Solutions Architect Cisco System Indonesia, Hansel Gideon Gunawan, B.App.Sc (IT), M. M., menambahkan bahwa transformasi digital medis tidak bisa dipandang sebagai proyek sesaat. Digitalisasi adalah kapabilitas keberlanjutan yang memerlukan evaluasi kematangan secara berkala demi memetakan level keamanan terkini sekaligus menentukan arah pengembangan sistem ke depan.

Melalui seminar dan workshop ini, RSUI menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan siber di sektor kesehatan dengan menghadirkan kolaborasi bersama BSSN. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik terkait strategi penguatan keamanan siber, perlindungan data kesehatan, serta penerapan standar keamanan informasi bagi rumah sakit dan pemangku kepentingan kesehatan lainnya. Upaya ini diharapkan dapat mendorong penguatan tata kelola keamanan informasi dan meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam menghadapi tantangan keamanan siber di era transformasi digital.(Hanny)

Reporter: Diana Hanny A.G
Back to top