SURABAYA, MON — Di tengah tantangan geopolitik dunia yang kian kompleks dan ketidakpastian ekonomi global, ketahanan ekonomi domestik menjadi pertaruhan besar. Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Mercy Corps Indonesia bekerja sama dengan DBS Foundation resmi meluncurkan inisiatif strategis bertajuk Financial Inclusion for Women Entrepreneurs, Kamis (29/1/2026).
Acara yang digelar di Hotel Alana Surabaya pada Kamis pagi ini merupakan pembukaan Training of Trainers (ToT) gelombang pertama. Program ambisius ini menargetkan peningkatan kapasitas bagi 40.000 pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) perempuan di tiga kota kunci penggerak ekonomi: Surabaya, Medan, dan Semarang.
Filosofi “Sehat Keuangan” Sebelum “Skill Bisnis”
Program Manager Financial Inclusion for Women Entrepreneurs, Navita Hani Restuningrum, menekankan bahwa pendekatan program ini sedikit berbeda dari pendampingan bisnis konvensional. Fokus utama mereka bukanlah sekadar melatih cara berjualan, melainkan membangun fondasi kesehatan dan ketahanan keuangan.
“Kami percaya, pengembangan bisnis basisnya bukan hanya soal keahlian teknis, tapi kesehatan keuangan. Jika keuangannya sehat, bisnis akan tumbuh secara alami (grow). Banyak pelaku UMK perempuan yang kesulitan memisahkan uang dapur dan uang usaha; inilah yang ingin kita benahi,” tegas Navita.
Inisiatif ini dirancang selama dua tahun untuk memastikan para pelaku usaha tidak hanya “melek” perbankan, tetapi juga memiliki mentalitas finansial yang kuat agar modal usaha tidak habis untuk kebutuhan konsumtif.
Kolaborasi Strategis: Mercy Corps dan DBS Foundation
Navita juga meluruskan persepsi publik mengenai identitas organisasi mereka. Mercy Corps Indonesia yang sering disalahpahami sebagai brand otomotif adalah organisasi kemanusiaan nirlaba yang telah hadir di tanah air sejak 1998. Fokus mereka kini meluas pada peningkatan peluang ekonomi bagi kelompok rentan.
Di sisi lain, DBS Foundation hadir sebagai mitra dengan visi yang melampaui layanan perbankan tradisional (beyond banking). Salah satu poin menarik yang diangkat adalah persiapan menuju gelombang populasi menua (aging population) pada 2040.
“DBS Foundation adalah salah satu dari sedikit lembaga yang peduli pada persiapan masa tua yang berkualitas. Dengan membekali perempuan pengusaha saat ini dengan literasi keuangan, kita sedang menyiapkan kemandirian ekonomi mereka di masa depan,” tambah Navita.
Target Nyata: Digitalisasi dan Akses Modal
Program ini menetapkan indikator keberhasilan yang sangat spesifik dan transparan bagi pemerintah kota:
– 75% peningkatan pengetahuan keuangan di kalangan peserta.
– 60% peserta membuka saluran pemasaran digital (Shopee, TikTok, hingga optimalisasi media sosial pribadi).
– 60% akses ke produk layanan keuangan resmi melalui kemitraan dengan BSI, BCA, dan bank daerah.
– 70% penggunaan layanan keuangan secara rutin (bukan sekadar membuka rekening, tetapi aktif menggunakannya).
Garda Terdepan di Kelurahan dan Kecamatan
Menyadari tim internal Mercy Corps Indonesia yang terbatas, Navita menitipkan harapan besar kepada para peserta sebagai “pasukan garda depan”. Para pelatih inilah yang nantinya akan turun langsung ke tingkat kelurahan dan kecamatan untuk mendampingi ribuan perempuan pengusaha.
“Keberhasilan program ini ada di lidah dan tangan Bapak-Ibu sekalian. Pastikan informasi sampai ke tingkat akar rumput dengan bahasa yang mudah dimengerti, agar inklusi keuangan bukan lagi hal yang menakutkan bagi mereka,” paparnya.
Sementara itu, mewakili Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Dinkopdag) Kota Surabaya, Muhammad Miftahudin menegaskan bahwa kerja sama dengan Mercy Corps Indonesia bukan sekadar agenda singkat, melainkan komitmen jangka panjang yang telah dipayungi oleh kesepakatan bersama hingga tahun 2027.
Payung Hukum dan Komitmen Jangka Panjang
Dalam arahannya, Miftahudin mengungkapkan bahwa Pemkot Surabaya memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif yang didukung oleh *DBS Foundation* ini. Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk menyentuh lapisan masyarakat yang paling produktif namun sering kali rentan: pelaku usaha mikro perempuan.
“Kerja sama ini telah memiliki payung hukum yang kuat hingga tahun 2027. Ini adalah bukti bahwa pemerintah hadir dan serius dalam memberdayaan UMKM melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis,” ujar Miftahudin di hadapan para fasilitator.
Strategi Menghadapi Profil UMKM yang Beragam
Sebagai garda terdepan, para fasilitator diingatkan untuk memiliki fleksibilitas dalam berkomunikasi. Miftahudin menyoroti variasi profil pelaku usaha di Surabaya yang sangat dinamis.
– Pelaku Usaha Aktif: Membutuhkan dorongan untuk scaling up (naik kelas).
– Pelaku Usaha Setengah Aktif: Membutuhkan motivasi dan pendampingan teknis agar kembali produktif.
– Pelaku Usaha Tidak Aktif: Membutuhkan identifikasi masalah dan solusi dasar untuk memulai kembali.
“Setiap pelaku usaha punya profil dan masalah yang berbeda. Tambahan ilmu selama dua hari ini akan menjadi bekal penting agar pendampingan yang Bapak-Ibu berikan nanti benar-benar tepat sasaran,” tambahnya.
Aktivasi Dukungan di 31 Kecamatan dan 153 Kelurahan
Salah satu poin penting dalam sambutan tersebut adalah rencana aksi Pemkot Surabaya untuk memuluskan jalan bagi para fasilitator. Pekan depan, Pemkot berencana menggelar rapat koordinasi besar yang melibatkan seluruh pemangku wilayah di Surabaya.
“Kami akan mensosialisasikan program ini kepada 31 camat dan 153 lurah se-Surabaya. Kami ingin memastikan keberadaan Bapak-Ibu di lapangan nanti mendapatkan dukungan penuh dari aparat wilayah,” tegas Miftahudin.
Dukungan struktural ini diharapkan dapat mempermudah akses data dan meminimalisir hambatan birokrasi saat para fasilitator mulai melakukan intervensi program di tingkat akar rumput.
Resmi Dibuka: Membangun Semangat Kebersamaan
Menutup sambutannya, Muhammad Miftahudin secara resmi membuka kegiatan dengan harapan agar keragaman latar belakang para fasilitator—mulai dari akademisi, dosen, hingga aktivis sosial—dapat menjadi kekuatan kolektif untuk membangun ekonomi Surabaya.(*)
Penulis : Firnas Muttaqin
Editor : Redaksi








