Surabaya, MON — Dukungan dan kepedulian masyarakat menjadi kunci utama keberlanjutan fasilitas publik. Tanpa rasa memiliki dari pengguna, fasilitas tersebut tidak akan dapat bertahan dalam jangka panjang. Hal ini disampaikan oleh Mulyono, SH, Kepala Seksi Prasarana Angkutan Jalan Dinas Perhuhungan Provinsi Jawa Timur dalam dialog interaktif di radio Suara Surabaya mengenai layanan Trans Jatim, Selasa sore (21/10/2025).
“Kita harapkan masyarakat bisa menjaga fasilitas yang ada. Beberapa waktu yang lalu, kami menemukan kasus pencurian perangkat Wi-Fi di halte oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Perilaku seperti ini sangat disayangkan karena fasilitas publik adalah milik bersama. Manfaatnya akan optimal hanya jika masyarakat turut serta menjaganya,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap umpan balik dari masyarakat, sekecil apapun, sangat berharga bagi perbaikan dan keberlangsungan layanan.
Koridor Favorit dan Tingkat Okupansi
Ditanya tentang koridor dengan peminat tertinggi, Koridor 1 (Porong – Purabaya – Gresik) menempati posisi teratas. Pada hari biasa (weekday), koridor ini mengangkut rata-rata 62.000 hingga 63.000 penumpang. Rute yang melintasi kawasan industri dan pusat ekonomi ini terbukti menjadi pilihan favorit bagi para pekerja, terlihat dari banyaknya penumpang yang menunggu di halte-halte, khususnya di area Gersik.
Suara dari Depan: Pengalaman Seorang Pengemudi
Irwan, salah seorang pengemudi Trans Jatim yang bergabung sejak Juni dan bertugas di Koridor 6 (Krian – Porong), membagikan pengalamannya melayani masyarakat.
“Pengalamannya sangat berkesan. Setiap hari kami berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, dari pelajar, pekerja, hingga lanjut usia (lansia). Rasanya bangga bisa menjadi bagian dari pelayanan publik yang membantu orang beraktivitas dengan aman dan nyaman,” tutur Irwan, yang sebelumnya juga merupakan pengemudi angkutan umum non-formal.
Bagi Irwan, perubahan positif juga terasa bagi masyarakat sekitar. “Saya melihat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di sepanjang koridor bisa berkembang karena meningkatnya mobilitas orang. Ini bisa menambah penghasilan mereka,” ujarnya.
Harapannya untuk ke depan sederhana: agar layanan transportasi publik ini bisa menjangkau wilayah yang lebih luas di Jawa Timur.
Rekrutmen dan Sistem Pengawasan yang Ketat
Untuk memastikan kualitas layanan, proses rekrutmen dan evaluasi pengemudi dilakukan dengan ketat. Operator bekerja sama dengan pihak ketiga untuk proses seleksi, diikuti dengan pelatihan intensif sebelum pengemudi ditugaskan.
“Evaluasi dilakukan setiap tiga bulan. Kami memiliki kanal aduan yang terhubung dengan aplikasi Trans Jatim. Setiap laporan dari penumpang, misalnya mengenai sikap pengemudi yang kurang baik, menjadi bahan refleksi dan perbaikan. Prinsipnya, dalam kondisi apapun, masyarakat berhak mendapat layanan terbaik,” jelas Mulyono.
Masyarakat dapat melaporkan pengalaman mereka, seperti pengemudi yang ugal-ugalan, langsung melalui aplikasi resmi Trans Jatim.
Antusiasme Meningkat dan Tantangan Keberlanjutan
Antusiasme masyarakat terhadap Trans Jatim tercatat semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dibuktikan dengan penambahan armada secara bertahap untuk memenuhi permintaan yang melonjak.
“Sebagai contoh, di satu koridor awalnya kami hanya menyediakan 20 bus. Karena permintaan tinggi, kami tambah 10 menjadi 30. Ternyata masih meningkat, akhirnya kami tambah 7 bus lagi menjadi 37 unit. Ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat akan transportasi umum yang andal,” paparnya.
Meski demikian, tantangan anggaran dan operasional tetap ada. Saat ini, layanan beroperasi dari pukul 05.00 pagi hingga 21.00 malam, disesuaikan dengan aktivitas masyarakat.
Pesan untuk Generasi Muda: Jaga Aset Bersama
Dialog ditutup dengan pesan penting bagi generasi muda, calon penerus pembangunan.
“Menjaga infrastruktur seringkali lebih sulit daripada membangunnya. Yang paling penting adalah kesadaran publik dan rasa memiliki. Infrastruktur adalah aset bangsa, hasil kerja keras generasi sebelumnya yang kita nikmati sekarang, dan harus kita wariskan untuk generasi mendatang,” pesan salah satu narasumber yang lain.
Selain itu, generasi muda didorong untuk terus mengembangkan kompetensi dan berinovasi dalam teknologi guna mewujudkan infrastruktur yang lebih baik di masa depan.
Sementara itu, dari sisi pengemudi, Irwan berharap layanan ini dapat mengajarkan kedisiplinan. “Kami mengajak penumpang, terutama generasi muda, untuk membiasakan diri disiplin, seperti naik dan turun di halte yang telah ditentukan. Kebiasaan kecil ini akan membentuk karakter yang baik.”
Dengan komitmen dari pengelola, dedikasi para pekerja di lapangan, serta dukungan penuh dari masyarakat, harapannya Trans Jatim tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga kebanggaan bersama yang berkelanjutan bagi Jawa Timur.
Laporan : Firnas Muttaqin
Editor: Redaksi








