Pasuruan, MON — Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Aisyiyah berperan sebagai lini pertama dalam pencegahan kekerasan dengan memberikan Dukungan Kesehatan Mental dan Psikososial (DKMP). Hal ini ditegaskan oleh Ifa Nur Rosidah, staf bidang perlindungan anak, Jumat (23/1).
Menurut Rosi, panggilan akrab ifa Nur Rosidah, Puspaga merupakan bagian vital dari upaya pencegahan. “Penanganan di Puspaga difokuskan pada klien sebelum terjadi kekerasan. Ini adalah bentuk upaya pencegahannya,” jelasnya. Ia menegaskan, jika kekerasan sudah terjadi, maka penanganannya menjadi ranah Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA).
Pelatihan yang digelar ini bertujuan melatih tim Puspaga Aisyiyah sendiri agar terampil memberikan dukungan psikologis awal. “Penanganan awal ini tidak harus dilakukan oleh psikolog atau profesional. Siapapun yang sudah dilatih bisa melakukannya,” ujar Ifa. Puspaga berfungsi sebagai “pintu pertama” bagi masyarakat, terutama keluarga, yang mengalami masalah seperti stres, konflik rumah tangga, atau perundungan (bullying).
Mekanisme kerjanya dimulai dengan menerima laporan atau kedatangan klien. “Kita lihat dulu, amati, dan pahami. Kita harus menjadi pendengar aktif, mencerna masalah untuk menemukan apa yang dibutuhkan klien,” papar Rosi. Puspaga akan berusaha menyelesaikan masalah di tingkat tersebut. Jika diperlukan, Puspaga dapat merujuk klien ke pihak lain, misalnya dinas sosial untuk masalah ekonomi atau ke rumah sakit dan psikiater jika kasus membutuhkan penanganan medis.
“Namun, jika ada klien yang melapor telah mengalami kekerasan, seperti KDRT atau pelecehan seksual, maka Puspaga akan mendampingi langsung ke UPTD PPA untuk penanganan lebih lanjut, termasuk pendampingan pelaporan kepolisian dan visum,” tambahnya.
Rosi mengungkapkan, Puspaga Aisyiyah di Pasuruan berdiri sejak 2025 dan telah mengikuti standarisasi hingga meraih penghargaan dari Kementerian. Keberadaan Puspaga juga ada di bawah Pemerintah Kota (Pemkot) dan organisasi masyarakat lainnya. “Tugas kami adalah menularkan ilmu dan menyosialisasikan pentingnya lembaga serupa di masyarakat,” imbuhnya.
Intinya, Puspaga hadir sebagai upaya konkret mencegah eskalasi masalah menjadi kekerasan. “Ini upaya pencegahan. Jangan sampai terjadi kekerasan yang ranah penanganannya sudah berbeda, seperti ke kepolisian,” pungkas Rosi.(*)
Penulis : Firnas Muttaqin
Editor : Redaksi








