Pentas Budaya PWI Jakarta Tetap Meriah di Gunung Padang Meski Diguyur Hujan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Desember 2025 - 18:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pentas Budaya PWI Jaya di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Foto:Ist/MON

Pentas Budaya PWI Jaya di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Foto:Ist/MON

CIANJUR, MON — Hujan deras yang mengguyur kawasan Gunung Padang sejak siang hingga malam hari tak menyurutkan semangat PWI Jakarta untuk tetap menggelar pentas budaya di situs prasejarah terbesar di Asia Tenggara tersebut. Meskipun lokasi acara terpaksa dipindahkan dari area terbuka ke Pendopo Gunung Padang, seluruh rangkaian pertunjukan berjalan lancar, hangat, dan penuh makna.

Acara dimulai dengan alunan Sape dari grup SlarasBudaya oleh Ghodiel Sapeq dan Arke Nurdjatni Soedjatno. Petikan instrumen tradisional Dayak itu menghadirkan suasana sakral yang langsung mengikat perhatian para tamu meski panggung telah bergeser ke ruang tertutup.

Penonton kemudian disuguhkan Tari Bedhoyo Nawasena karya Perkumpulan Arkamaya Sukma. Tarian yang disusun oleh Martini Brenda dengan iringan musik Lumbini Tri Hasto ini menampilkan tujuh penari: Lina Agung, Ragil Endang Srimulyani, Elisabeth Kusuma Indreswari, Ipung Purwanti, Martini Brenda, Mustika Handayani, dan Tiana Poesponegoro Soeharto. Lewat gerak halus yang berpadu kuat, tarian ini menyampaikan pesan keselamatan dan harapan masa depan.

Suasana semakin hangat ketika Komunitas SlarasBudaya menampilkan Tari Rejang Sari karya I Ketut Rena. Dibawakan oleh Grantyartha, Nurmadelina, Sri Utami P., Anna Diani Nari Ratih, Laras Kusumadewi, Susan Indahwati, Winedari Wiyono, Pritha Nandini, dan Arke Nurdjatni Soedjatno, tarian ini menegaskan nilai kebersamaan, ketulusan, dan kesetaraan.

Baca Juga :  BNNP Babel Gandeng PWI dan APDESI Perkuat Sinergi Perang Lawan Narkoba, Sepakat Susun MoU dan PKS P4GN

Penanggung jawab kegiatan, Dar Edi Yoga, menegaskan bahwa perubahan lokasi akibat cuaca ekstrem tidak mengurangi esensi kegiatan. “Ini bukan sekadar pentas seni. Ini ikhtiar merawat kebudayaan sekaligus meneguhkan jati diri bangsa,” ujarnya, Kamis malam (4/12). Ia menegaskan bahwa menghadirkan seni di Gunung Padang adalah cara menghormati sejarah serta memperkuat identitas kebangsaan.

Apresiasi juga disampaikan Ali Akbar, Ketua Tim Penelitian dan Pemulihan Situs Megalitik Gunung Padang. Ia memuji konsistensi PWI Jakarta dalam memadukan kegiatan kebudayaan dengan pelestarian situs.
“Kami sangat menghargai kegiatan ini. Pagelaran seni di ruang bersejarah seperti Gunung Padang bukan hanya memperkaya pengalaman budaya, tetapi juga menguatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga warisan peradaban,” ungkapnya.
Ali Akbar berharap kegiatan serupa terus berlanjut sehingga masyarakat semakin memahami nilai arkeologis, historis, dan spiritual situs tersebut.

Di tengah suasana pendopo yang lebih intim, setiap alunan musik dan gerak tari terasa lebih menyentuh. Ketua Panitia Rudolf Simbolon didampingi Rosy Maharani menuturkan bahwa antusiasme peserta justru meningkat. “Kedekatan ruang menciptakan kedekatan batin. Semua terasa lebih menyatu,” ujarnya.

Baca Juga :  Banjir Air Mata: Premiere Emosional "Air Mata di Ujung Sajadah 2" Sukses Digelar di Solo

Pagelaran yang didukung Oval Advertising dan Pertamina Hulu Indonesia ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat terus menyala dalam kondisi apa pun. Gunung Padang kembali menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, seni, spiritualitas, dan keberagaman Nusantara.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Laksma TNI (Purn) Darbagus J.P, Romo Kolonel (Purn) Yos Bintoro, Pr., Romo Hubert CJD, Kolonel Laut (KH) Pundjung, praktisi spiritual Cahaya Adi Wibowo, Ketua Bidang Hukum dan Pembelaan Wartawan PWI Pusat Anrico Pasaribu, Anggota Dewan Pakar PWI Pusat Raldy Doy, Sekretaris PWI Jaya Arman Suparman, Wakil Ketua Bidang Kerja Sama PWI Jaya Tubagus Adhi, beserta jajaran pengurus PWI Pusat dan PWI Jaya.

Pentas budaya ini meneguhkan kembali bahwa seni adalah cahaya yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan, dipersembahkan sepenuh hati untuk Indonesia.

 

Editor: Eko TW

Follow WhatsApp Channel mediaonlinenasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Edisi Ke-2 FFH “Trend Film Horor 2026”, Janur Ireng Film Terpilih Bulan ini
Ali Akbar: Penjelasan LMKN dan DJKI Kaburkan Substansi Laporan ke KPK
Royalti Mandek, Pencipta Lagu Menjerit: PEPTI Somasi LMKN
Nyanyi untuk Keluarga Kerajaan Brunei, Icha Yang Kian Percaya Diri Melangkah Global
Jelang Akhir Tahun 2025, Komunitas Cinta Persahabatan Gelar Lomba Akting
Pemutaran Perdana Film Dokumenter “Dia Hilang di Antara Kabut” Digelar di SMA 68
Ribuan Warga Padati Lapangan Menyaksikan Pementasan Wayang Golek di Karawang
Kidung Rakyat Bangkit Lewat Kolaborasi Pipit dan Toto Tewel
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 22:05 WIB

Edisi Ke-2 FFH “Trend Film Horor 2026”, Janur Ireng Film Terpilih Bulan ini

Selasa, 13 Januari 2026 - 11:08 WIB

Ali Akbar: Penjelasan LMKN dan DJKI Kaburkan Substansi Laporan ke KPK

Kamis, 8 Januari 2026 - 20:59 WIB

Royalti Mandek, Pencipta Lagu Menjerit: PEPTI Somasi LMKN

Selasa, 9 Desember 2025 - 17:06 WIB

Nyanyi untuk Keluarga Kerajaan Brunei, Icha Yang Kian Percaya Diri Melangkah Global

Jumat, 5 Desember 2025 - 18:14 WIB

Pentas Budaya PWI Jakarta Tetap Meriah di Gunung Padang Meski Diguyur Hujan

Berita Terbaru