Pasuruan, MON – Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan pada hari Selasa (4/11/2025) menjadi lokasi pertemuan bersejarah antara pengurus PDM dan Dewan Pimpinan Daerah AHLUL BAIT INDONESIA (ABI) Kota Pasuruan. Kunjungan silaturahmi dari ABI ini bertujuan untuk merajut persatuan umat Islam dan menjajaki potensi kerjasama ke depan.
ABI Ingin Belajar dan Berkolaborasi
Hud Assegaf dari ABI Kota Pasuruan menyampaikan bahwa kunjungan ini memiliki dua tujuan utama: pertama, bersilaturahmi, dan kedua, mencari masukan dan bimbingan dari Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat Islam yang jauh lebih tua dan berpengalaman.
“Kami sebagai organisasi yang baru butuh bimbingan dari Muhammadiyah, sehingga ke depannya bisa kita sinergikan kerjasama,” ujar Hud.
Inti dari semangat pertemuan ini, menurut ABI, adalah keinginan untuk merangkul semua umat Islam karena memiliki Tuhan, Nabi, dan kiblat yang sama. Mereka ingin merajut kerukunan, berkhidmat, dan berbuat bersama untuk sesama muslim dan anak bangsa.
ABI juga memperkenalkan sayap otonom baru mereka, *ABI Responsif*, yang lahir dari pengalaman berkhidmat di masa pandemi COVID-19 dan kini bertransformasi menjadi layanan ambulans.
PDM Usung Risalah Islam Berkemajuan
Menanggapi niat baik ABI, Abu Nasir, Ketua PDM Kota Pasuruan menyampaikan sambutan hangat, berterima kasih atas kunjungan tersebut, dan menekankan pentingnya mengintensifkan komunikasi sesama umat Rasulillah.
Abu Nasir kemudian menjabarkan pandangan dan cita-cita Muhammadiyah yang kini diusung dalam bingkai “Risalah Islam Berkemajuan” (RIB). Konsep ini dicetuskan dalam Muktamar ke-48 dan berakar pada tiga pilar dakwah KH. Ahmad Dahlan sejak 1912:
1. Dakwah yang Menggembirakan: Menawarkan Islam yang mudah diterima masyarakat.
2. Pendidikan Klasikal: Memajukan anak bangsa melalui pendidikan yang memadukan pendidikan umum dan Islam (Tajdid).
3. Tajdid (Pemurnian dan Pembaruan): Berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
“Pola pikir Islam berkemajuan sudah sejak awal pendirian 1912 dicetuskan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Tujuannya adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” jelas Ketua PDM.
Musuh Bersama: Kebodohan, Kemiskinan, dan Ateisme
Dalam konteks kebangsaan, PDM mengajak seluruh komponen umat Islam untuk bersatu dalam semangat inklusivitas dan moderasi, sebab musuh bersama umat Islam saat ini adalah kebodohan, kemiskinan, dan ateisme (neopaham PKI gaya baru).
“Neo-PKI gaya baru ini basis pemikirannya tetap sama: bahwa tidak ada Tuhan. Ini tidak bisa digotong hanya oleh Muhammadiyah. Kita harus bersama-sama mengawal anak-anak muslim agar tidak terpengaruh oleh narasi-narasi [anti-agama] seperti itu,” tegasnya.
Abu Nasir juga menggarisbawahi pentingnya Tasamuh (toleransi) dan Kalimatun Sawa’ (titik temu) antar-firqah dalam Islam. Dengan mengutip dialog ulama Sunni-Syiah, Ketua PDM mengajak untuk fokus pada persamaan.
“Ayo bersama-sama kita mencari Kalimatun Sawa’ dari semua firqah-firqah di Islam. Kita ini jangan terlibat di urusan khilafiah. Mari kita satu padu pada hal yang banyak bisa kita pertemukan,” ajak dia.
Abu Nasir menyimpulkan bahwa fokus umat Islam harus diarahkan untuk menjaga akidah dan keislaman umat, serta berkontribusi bersama dalam kehidupan sosial dan kemajuan umat, tanpa saling menjatuhkan atau menghancurkan.
Acara silaturahmi ini diakhiri dengan harapan bahwa komunikasi ini akan terus berlanjut hingga terwujudnya kerjasama nyata dalam memajukan umat di Kota Pasuruan.
Laporan: Firnas Muttaqin
Editor: Tim Redaksi








