JAKARTA, MON — Praktisi media massa sekaligus Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, Benz Jono Hartono, menyerukan Manifesto Dakwah Islam sebagai bentuk perlawanan terhadap infiltrasi budaya sekuler global yang dinilai telah mengikis nilai spiritual umat.
Dalam naskah yang ia tulis bertajuk “Menegakkan Kedaulatan Spiritual dan Melawan Infiltrasi Budaya Sekuler Global”, Benz menegaskan bahwa umat Islam harus menyadari budaya bukan sekadar hiburan, melainkan “medan perjuangan peradaban.” Ia menilai masuknya budaya Barat sekuler melalui film, media, hingga simbol-simbol global seperti Halloween dan Valentine merupakan bentuk penjajahan kultural yang berbahaya.
“Budaya semacam itu menumpulkan akidah, menipu generasi muda, dan menghapus kesadaran ketuhanan dari jiwa manusia,” tulis Benz dalam mukadimahnya.
Menurutnya, Islam tidak boleh diposisikan hanya sebagai agama ritual, tetapi sebagai sistem nilai yang menyelamatkan fitrah manusia dari kekosongan makna dan kegelapan moral. Ia menekankan pentingnya kedaulatan budaya Islam sebagai benteng spiritual bangsa.
Budaya: Cermin Akidah dan Akhlak
Dalam Pasal 1 Manifesto Dakwah Islam, Benz menyebut bahwa budaya sejatinya merupakan ekspresi dari akidah dan pandangan hidup suatu umat. Budaya Islam, kata dia, harus berakar dari tauhid, berbuah pada akhlak, dan berorientasi pada kemanusiaan yang beradab.
Sebaliknya, budaya Barat yang menjadikan ketakutan dan hawa nafsu sebagai pusat nilai dinilai bertentangan dengan pandangan dunia Islam.
“Setiap bentuk imitasi budaya non-Islam yang mengandung glorifikasi setan atau pelecehan terhadap kematian adalah bertentangan dengan prinsip tauhid,” tegasnya.
Membangun Kesadaran dan Ketahanan Umat
Melalui Pasal 2, Benz Jono Hartono menegaskan bahwa perang budaya sejatinya adalah perang ideologi — siapa yang menguasai makna dan simbol, dialah yang menguasai generasi. Manifesto ini mengajak umat Islam, mulai dari ulama, cendekiawan, guru, hingga aktivis muda, untuk memperkuat ketahanan Islam dalam arus globalisasi budaya.
Ia merumuskan empat pilar dakwah: Tauhid sebagai asas, Ilmu sebagai pedang, Akhlak sebagai wajah, dan Dakwah sebagai jalan.
Dakwah yang Mendidik dan Kreatif
Benz juga menolak pandangan bahwa dakwah hanya sebatas larangan. Dalam Pasal 3, ia menekankan dakwah harus mendidik dengan hikmah, menggali akar ideologi setiap budaya asing, dan melahirkan alternatif budaya Islami yang menggembirakan.
Masjid, pesantren, dan kampus Islam, menurutnya, harus menjadi pusat literasi budaya dan spiritualitas, bukan hanya tempat ritual semata.
Strategi Gerakan Dakwah Budaya
Melalui Pasal 4, Manifesto ini menawarkan strategi konkret di tiga bidang:
1. Pendidikan: Integrasi literasi budaya Islami dan kritik terhadap budaya sekuler dalam kurikulum.
2. Dakwah: Pengembangan konten kreatif digital serta penyelenggaraan festival alternatif Islami seperti Malam Cahaya Iman dan Pekan Budaya Tauhid.
3. Kelembagaan: Pembentukan Pusat Kajian Dakwah Budaya Islam di bawah ormas-ormas besar dan pembangunan jejaring internasional dakwah budaya.
Islam sebagai Peradaban
Dalam penutup manifesto, Benz menulis dengan gaya reflektif:
“Jika Halloween adalah malam kegelapan yang dirayakan dengan tawa kosong, maka Islam adalah fajar yang menyinari bumi dengan makna sejati kehidupan.”
Ia menegaskan bahwa perjuangan dakwah bukanlah bentuk permusuhan terhadap dunia modern, tetapi penegasan untuk tidak kehilangan kehidupan Islami di dalamnya.
“Kami tidak menolak dunia, tapi kami menolak kehilangan kehidupan Islami di dalam dunia. Kami tidak memusuhi budaya, tapi kami menolak budaya yang menghapus akhlak,” tulisnya menutup manifesto tersebut.(*)
Penulis : Benz Jono Hartono
Editor : Ifan Ar Uzan








