Manifesto Dakwah Islam: Menegakkan Kedaulatan Spiritual, Menolak Infiltrasi Budaya Sekuler Global

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 31 Oktober 2025 - 16:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa sekaligus Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, saat membacakan Manifesto Dakwah Islam di Jakarta.

Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa sekaligus Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, saat membacakan Manifesto Dakwah Islam di Jakarta.

JAKARTA, MON — Praktisi media massa sekaligus Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, Benz Jono Hartono, menyerukan Manifesto Dakwah Islam sebagai bentuk perlawanan terhadap infiltrasi budaya sekuler global yang dinilai telah mengikis nilai spiritual umat.

Dalam naskah yang ia tulis bertajuk “Menegakkan Kedaulatan Spiritual dan Melawan Infiltrasi Budaya Sekuler Global”, Benz menegaskan bahwa umat Islam harus menyadari budaya bukan sekadar hiburan, melainkan “medan perjuangan peradaban.” Ia menilai masuknya budaya Barat sekuler melalui film, media, hingga simbol-simbol global seperti Halloween dan Valentine merupakan bentuk penjajahan kultural yang berbahaya.

“Budaya semacam itu menumpulkan akidah, menipu generasi muda, dan menghapus kesadaran ketuhanan dari jiwa manusia,” tulis Benz dalam mukadimahnya.

Menurutnya, Islam tidak boleh diposisikan hanya sebagai agama ritual, tetapi sebagai sistem nilai yang menyelamatkan fitrah manusia dari kekosongan makna dan kegelapan moral. Ia menekankan pentingnya kedaulatan budaya Islam sebagai benteng spiritual bangsa.

Budaya: Cermin Akidah dan Akhlak

Dalam Pasal 1 Manifesto Dakwah Islam, Benz menyebut bahwa budaya sejatinya merupakan ekspresi dari akidah dan pandangan hidup suatu umat. Budaya Islam, kata dia, harus berakar dari tauhid, berbuah pada akhlak, dan berorientasi pada kemanusiaan yang beradab.

Baca Juga :  Jemaat HKBP Cikarang Dipaksa Ibadah di Hotel

Sebaliknya, budaya Barat yang menjadikan ketakutan dan hawa nafsu sebagai pusat nilai dinilai bertentangan dengan pandangan dunia Islam.

“Setiap bentuk imitasi budaya non-Islam yang mengandung glorifikasi setan atau pelecehan terhadap kematian adalah bertentangan dengan prinsip tauhid,” tegasnya.

Membangun Kesadaran dan Ketahanan Umat

Melalui Pasal 2, Benz Jono Hartono menegaskan bahwa perang budaya sejatinya adalah perang ideologi — siapa yang menguasai makna dan simbol, dialah yang menguasai generasi. Manifesto ini mengajak umat Islam, mulai dari ulama, cendekiawan, guru, hingga aktivis muda, untuk memperkuat ketahanan Islam dalam arus globalisasi budaya.

Ia merumuskan empat pilar dakwah: Tauhid sebagai asas, Ilmu sebagai pedang, Akhlak sebagai wajah, dan Dakwah sebagai jalan.

Dakwah yang Mendidik dan Kreatif

Benz juga menolak pandangan bahwa dakwah hanya sebatas larangan. Dalam Pasal 3, ia menekankan dakwah harus mendidik dengan hikmah, menggali akar ideologi setiap budaya asing, dan melahirkan alternatif budaya Islami yang menggembirakan.

Baca Juga :  BNN dan PWI Satukan Suara Lawan Narkoba Lewat Pemberitaan yang Mencerahkan

Masjid, pesantren, dan kampus Islam, menurutnya, harus menjadi pusat literasi budaya dan spiritualitas, bukan hanya tempat ritual semata.

Strategi Gerakan Dakwah Budaya

Melalui Pasal 4, Manifesto ini menawarkan strategi konkret di tiga bidang:

1. Pendidikan: Integrasi literasi budaya Islami dan kritik terhadap budaya sekuler dalam kurikulum.

2. Dakwah: Pengembangan konten kreatif digital serta penyelenggaraan festival alternatif Islami seperti Malam Cahaya Iman dan Pekan Budaya Tauhid.

3. Kelembagaan: Pembentukan Pusat Kajian Dakwah Budaya Islam di bawah ormas-ormas besar dan pembangunan jejaring internasional dakwah budaya.

Islam sebagai Peradaban

Dalam penutup manifesto, Benz menulis dengan gaya reflektif:

“Jika Halloween adalah malam kegelapan yang dirayakan dengan tawa kosong, maka Islam adalah fajar yang menyinari bumi dengan makna sejati kehidupan.”

Ia menegaskan bahwa perjuangan dakwah bukanlah bentuk permusuhan terhadap dunia modern, tetapi penegasan untuk tidak kehilangan kehidupan Islami di dalamnya.

“Kami tidak menolak dunia, tapi kami menolak kehilangan kehidupan Islami di dalam dunia. Kami tidak memusuhi budaya, tapi kami menolak budaya yang menghapus akhlak,” tulisnya menutup manifesto tersebut.(*)

Penulis : Benz Jono Hartono

Editor : Ifan Ar Uzan

Follow WhatsApp Channel mediaonlinenasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Misteri “Board of Peace” Dibongkar, GREAT Institute: Keputusan Prabowo di Davos Sudah Benar
Rapat Perdana 2026, Pokja PWI Wali Kota Jakarta Timur Siap Jalankan Program SINERGI
Lewat Buku, Wakapolri Titipkan Pesan Penting Pemberantasan TPPA–PPO kepada 5 Calon Atase dan Staf Teknis Polri
Rangkaian HPN 2026, 200 Wartawan Siap Berangkat ‘Retret’ Orientasi Kebangsaan dan Bela Negara
JMSI Apresiasi Kerja Keras Menteri Koperasi Ferry Juliantono Dalam Merangkul Kelompok Millenial dan Gen Z
Amanah Baru, Pengabdian Baru di Pusrenharwatalpalhan Baharwat Kemhan
Menembus Pasar Global: Strategi BUMDESMA Singosari Ekspor Anggrek ke Amerika dan Taiwan
Rangkaian HPN 2026, Puluhan Wartawan dan Sastrawan Ikuti Kemah Budaya
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 23:26 WIB

Misteri “Board of Peace” Dibongkar, GREAT Institute: Keputusan Prabowo di Davos Sudah Benar

Jumat, 23 Januari 2026 - 23:40 WIB

Lewat Buku, Wakapolri Titipkan Pesan Penting Pemberantasan TPPA–PPO kepada 5 Calon Atase dan Staf Teknis Polri

Jumat, 23 Januari 2026 - 18:40 WIB

Rangkaian HPN 2026, 200 Wartawan Siap Berangkat ‘Retret’ Orientasi Kebangsaan dan Bela Negara

Kamis, 22 Januari 2026 - 12:56 WIB

JMSI Apresiasi Kerja Keras Menteri Koperasi Ferry Juliantono Dalam Merangkul Kelompok Millenial dan Gen Z

Rabu, 21 Januari 2026 - 14:08 WIB

Amanah Baru, Pengabdian Baru di Pusrenharwatalpalhan Baharwat Kemhan

Berita Terbaru