Kasus Gangguan Jiwa di Indonesia Bak Fenomena Gunung Es, Ahli Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Agustina Konginan, Sp.KJ, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa, saat menjadi narasumber dialog interaktif di Radio Suara Surabaya, membahas fenomena gunung es gangguan jiwa serta pentingnya deteksi dini kesehatan mental, Rabu (28/1/2026).

Dr. Agustina Konginan, Sp.KJ, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa, saat menjadi narasumber dialog interaktif di Radio Suara Surabaya, membahas fenomena gunung es gangguan jiwa serta pentingnya deteksi dini kesehatan mental, Rabu (28/1/2026).

Surabaya, MON — Dalam dialog interaktif di Radio Suara Surabaya, Rabu (28/1), pakar kesehatan jiwa mengonfirmasi bahwa kasus gangguan jiwa di Indonesia ibarat fenomena gunung es. Data yang terdeteksi di permukaan jauh lebih kecil dibandingkan kenyataan di lapangan, sejalan dengan pernyataan Menteri Kesehatan beberapa waktu lalu yang memperkirakan 28 juta orang Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, Rabu (28/1/2026).

Dr. Agustina Konginan, Sp.KJ, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa, menjelaskan kompleksitas kondisi ini. “Gangguan jiwa spektrumnya sangat luas, mulai dari yang tidak kelihatan sampai yang kelihatan. Yang sering menjadi fenomena gunung es adalah ketika seseorang merasa cemas, depresi, atau stres berat, tetapi orang lain tidak mengetahuinya karena ia tidak mencari pertolongan,” ujarnya.

Spektrum Gangguan dan Batas Normal

Menurut dr. Agustina, penting untuk membedakan antara reaksi manusiawi dengan gangguan yang patologis. “Hidup punya masalah, cemas itu manusiawi. Itu reaksi jiwa untuk seimbang. Kita belum menyebutnya gangguan jiwa jika masih wajar,” jelasnya.

Namun, kondisi sudah masuk kategori gangguan ketika gejala mulai mengganggu fungsi sehari-hari, seperti asam lambung meningkat, jantung berdebar, keringat dingin, dan susah tidur berkelanjutan.

Gangguan jiwa juga mencakup masalah perkembangan seperti ADHD pada anak, di mana seringkali anak tidak merasa terganggu, tetapi orang tua atau gurunya yang merasakan dampaknya.

Gangguan Kepribadian vs Gangguan Jiwa

Merespons maraknya pembahasan gangguan kepribadian di media sosial, seperti Narcissistic Personality Disorder (NPD), dr. Agustina memberikan penjelasan tegas.

Baca Juga :  Ketika Harga Naik Lebih Cepat dari Gaji: Potret Krisis Sunyi di Meja Makan Keluarga Indonesia

“Kepribadian adalah pola bereaksi kita yang dibentuk dari pola asuh, genetik, pengalaman, agama, dan pendidikan. Memiliki narcissistic traits atau sifat narsisistik sedikit itu normal, bahkan bisa positif seperti untuk menjaga penampilan,” paparnya.

Kuncinya, kata dia, adalah pada fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi. “Itu baru disebut gangguan Narcissistic Personality Disorder ketika sifat itu menjadi kaku. Dia tidak fleksibel lagi, tidak bisa adaptif dalam komunitas, marah besar jika tidak diperhatikan, atau pendapatnya tidak diterima. Saat itulah kepribadiannya sudah menjadi gangguan jiwa,” tegasnya.

Langkah Awal dan Bahaya ‘Curhat’ yang Salah

Menyikapi tanda-tanda awal, dr. Agustina menekankan pentingnya mengenali batas kemampuan diri. “Jika bisa diatasi sendiri, itu bagus. Jika tidak, jangan direpresi atau dipendam ke alam bawah sadar. Selesaikan dengan diri, terima bahwa ada hal yang memang di luar kendali kita,” sarannya.

Ia mengingatkan bahwa spiritualitas dan menyerahkan masalah kepada Tuhan bisa menjadi salah satu cara penyelesaian, asalkan dilakukan dengan keyakinan sungguh-sungguh, bukan sekadar kata-kata.

Namun, dr. Agustina memberikan peringatan keras mengenai tren curhat di komunitas yang tidak tepat. Ia menceritakan pengalaman pasien yang melakukan *self-harm* dan memposting lukanya di sebuah komunitas daring.

“Bukannya dinasihati, dia malah dapat banyak ‘jempol’. Itu membuatnya bangga. Curhat seperti itu bukannya menyembuhkan, malah memperdalam gangguan. Harus curhat pada orang atau komunitas yang tepat,” imbaunya.

Baca Juga :  Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir Terima Lencana Kehormatan “Jer Basuki Mawa Beya” dari Gubernur Jatim

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Titik kritis untuk mencari bantuan tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater, adalah ketika seseorang sudah merasa tidak mampu lagi mengatasi masalahnya sendiri, dan gangguan mulai memengaruhi fisik serta perilaku.

“Contohnya, saat kecewa atau sakit hati berlarut-larut, sudah berusaha melupakan tapi tidak bisa, lalu terganggu tidurnya, mudah emosi, atau melampiaskan amarah ke orang lain yang tidak bersalah. Itu sinyal bahwa kita butuh bantuan,” ucap dr. Agustina.

Ia juga membantah mitos bahwa konsultasi ke psikolog selalu berujung pada pemberian obat yang membuat ketergantungan.

“Pengobatan diberikan berdasarkan kriteria. Jika kondisi ringan dan pasien masih mampu berpikir jernih, bisa dimulai dengan psikoterapi. Obat diberikan untuk kondisi yang lebih berat, seperti depresi berat dengan keinginan bunuh diri, atau yang sudah disertai halusinasi,” jelasnya.

Mengenai kekhawatiran ketergantungan, dr. Agustina menganalogikan dengan penyakit fisik seperti hipertensi atau diabetes. “Beberapa gangguan jiwa memang butuh obat untuk pengendalian jangka panjang. Penghentian obat harus sesuai instruksi dokter. Kambuhnya kondisi ketika obat dihentikan bukan karena ketergantungan, tetapi karena penyakitnya memang belum terkontrol penuh,” pungkasnya.

Dialog ini menggarisbawahi pentingnya pemahaman masyarakat akan kesehatan jiwa, deteksi dini, serta penanganan yang tepat untuk mencegah “gunung es” gangguan jiwa semakin membesar. (*)

Penulis : Firnas Muttaqin

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel mediaonlinenasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sehat Keuangan, Bisnis Menjulang: Mercy Corps Indonesia dan DBS Foundation Sasar 40.000 Pengusaha Perempuan
Beban Gangguan Jiwa di Usia Produktif Meningkat, Faktor Ekonomi dan Pinjol Jadi Pemicu Utama
Affiliate Marketing: Revolusi Bisnis Modal Mini yang Sedang Viral, Benarkah Semudah Itu?
Sorotan Biaya Operasional Gubernur Jatim: Kontroversi Insentif Miliaran dari Pajak Kendaraan
Silpa Rp 4,6 Triliun dan Deposito Rp 2,6 Triliun Disorot: Pengelolaan APBD Jatim Dicurigai “Tersandera” Bunga Bank
Kontras Pembangunan Jatim: Data Gini Turun, Infrastruktur Daerah Merana
Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir Terima Lencana Kehormatan “Jer Basuki Mawa Beya” dari Gubernur Jatim
Barack Obama: A Legacy of Progress and Change
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 12:46 WIB

Sehat Keuangan, Bisnis Menjulang: Mercy Corps Indonesia dan DBS Foundation Sasar 40.000 Pengusaha Perempuan

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:00 WIB

Beban Gangguan Jiwa di Usia Produktif Meningkat, Faktor Ekonomi dan Pinjol Jadi Pemicu Utama

Sabtu, 20 Desember 2025 - 13:50 WIB

Affiliate Marketing: Revolusi Bisnis Modal Mini yang Sedang Viral, Benarkah Semudah Itu?

Selasa, 28 Oktober 2025 - 20:10 WIB

Sorotan Biaya Operasional Gubernur Jatim: Kontroversi Insentif Miliaran dari Pajak Kendaraan

Selasa, 28 Oktober 2025 - 20:04 WIB

Silpa Rp 4,6 Triliun dan Deposito Rp 2,6 Triliun Disorot: Pengelolaan APBD Jatim Dicurigai “Tersandera” Bunga Bank

Berita Terbaru