Misteri “Board of Peace” Dibongkar, GREAT Institute: Keputusan Prabowo di Davos Sudah Benar

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 29 Januari 2026 - 23:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, saat menjadi narasumber dalam dialog GREAT Talks yang membahas keputusan Presiden Prabowo Subianto terkait keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace usai pertemuan WEF 2026 di Davos, Kamis (29/1/2026).

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, saat menjadi narasumber dalam dialog GREAT Talks yang membahas keputusan Presiden Prabowo Subianto terkait keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace usai pertemuan WEF 2026 di Davos, Kamis (29/1/2026).

JAKARTA, MON — Berbagai kritik yang dialamatkan pada keputusan Indonesia bergabung dalam “Board of Peace” yang diumumkan di sela pertemuan World Economy Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, 22 Januari lalu, merupakan apresiasi dari masyarakat luas pada kebijakan luar negeri pemerintahan Prabowo Subianto.

“Kritik dan komentar terhadap keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace adalah bentuk kepedulian. Artinya masyarakat Indonesia peduli pada garis lurus foreign policy kita,” ujar Direktur Geopolitik GREAT Institute Dr. Teguh Santosa dalam dialog GREAT Talks yang ditayangkan Kamis, 29 Januari 2026.

“Kebijakan Presiden ternyata diapresiasi oleh publik. Apalagi untuk urusan Palestina yang merupakan agenda lama yang kita simpan di playbook foreign policy kita,” sambungnya.

Namun bagaimana pun juga Teguh mengatakan bahwa “Board of Peace” adalah produk PBB yang dilahirkan dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 yang diterbitkan pada bulan November 2025.

Dalam Resolusi DK PBB itu disebutkan bahwa DK PBB menerima Comprehensive Plan perdamaian di Gaza yang disampaikan Donald Trump. DK PBB juga memberikan pengakuan pada kontribusi sejumlah negara seperti AS, Qatar, Mesir dan Turkiye yang ikut memfasilitasi upaya perdamaian di Gaza.

Sementara pada poin berikutnya, DK PBB menerima pembentukan “Board of Peace”.

Baca Juga :  Patuh Bayar Pajak sejak 2021, PDC Raih Penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Langkat

“Jadi kalau kita melihat Board of Peace dilahirkan melalui Resolusi DK PBB, maka tidak perlu meragukan itikad kehadiran Board of Peace,” sambungnya.

Teguh yang juga mendorong semua pihak untuk mempelajari kembali Resolusi DK PBB 2803 tentang perdamaian di Gaza yang mencakup pembentukan “Board of Peace” dan mekanisme kerja umumnya. Juga 20 poin “Comprehensive Plan” yang ditawarkan Trump yang menjadi lampiran tak terpisahkan dari Resolusi DK PBB 2803 itu.

Poin pertama dalam Comprehensive Plan itu aqdalah melakukan deradikalisasi di Gaza dan menjauhkan Gaza dari segala bentuk teror.

Rencana Komprehensif Trump itu juga menyatakan bahwa Hamas dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) harus menghentikan aksi saling serang.

Pelucutan senjata pihak-pihak yang bertikai adalah suatu keharus untuk mancapai fase pertama dari perdamaian, yaitu negative peace sebagai situasi di mana tidak ada kekerasan, untuk menuju positive peace.

“Untuk Hamas istilah yang digunakan meletakkan senjata, sementara untuk Israel menarik diri. Kenapa? Karena Gaza bukan punya Israel,” kata Teguh lagi.

Teguh juga mengatakan, di dalam Rencana Komprehensif itu juga disebutkan bahwa warga Gaza tidak akan diusir keluar secara paksa dari tanah mereka.

Baca Juga :  PMRI Mantapkan Komitmen Perjuangan Riau Jadi Daerah Istimewa, Libatkan Tokoh Nasional

“Karena itu semua saya menilai apa yang diputuskan Presiden Prabowo ini konsisten dengan perjuangan kita untuk menciptakan perdamaian di Palestina,” kata Teguh lagi.

Pada bagian lain, mantan Ketua Bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu juga mengatakan bahwa isu perdamaian di Gaza ini bukan isu penentuan nasib sendiri atau self determination.

“Isu self determination bagi Palestina sudah selesai. Palestina ini adalah negara yang berdaulat, maka ia punya bendera di Markas PBB dan statusnya observer state,” masih kata Teguh yang juga dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Dia menambahkan isu Palestina tidak pernah dibahas di Komisi IV PBB tentang Politik Khusus dan Dekolonisasi yang membahas wilayah-wilayah di muka bumi yang belum memerintah dirinya sendiri atau non-self governing territories.

Teguh memahami hal ini karena dia merupakan salah seorang petisioner masalah Sahara Barat yang dibahas di Komisi IV tersebut.

“Saya melihat Board of Peace ini sebagai suatu ikhtiar. Bukan ikhtiar Donald Trump. Setelah proposal Donald Trump diadopsi DK PBB, maka ini menjadi ikhtiar kita bersama, masyarakat internasional,” demikian Teguh Santosa.(*)

Editor : Bambang W

Follow WhatsApp Channel mediaonlinenasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rapat Perdana 2026, Pokja PWI Wali Kota Jakarta Timur Siap Jalankan Program SINERGI
Rangkaian HPN 2026, 200 Wartawan Siap Berangkat ‘Retret’ Orientasi Kebangsaan dan Bela Negara
Menembus Pasar Global: Strategi BUMDESMA Singosari Ekspor Anggrek ke Amerika dan Taiwan
Pesan Rahasia Peradaban Nusantara Terkuak Dalam Buku Kitab Ma Ha Is Ma Ya
Hidayat Humaid Calon Tunggal Ketua Umum KONI DKI Jakarta 2026-2030
PWI Jaya Stop Zona Nyaman Anggota Muda, UKW Jadi Syarat Wajib
Kunjungi PWI Jaya, Kapendam Jaya ajak pers menghadirkan informasi konstruktif
Pastikan Arus Penumpang Terkendali Aman Jelang Liburan Natal, Kapolda Metro Jaya Tinjau Kesiapan Personil Pengaman di Bandara Soeta
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 23:26 WIB

Misteri “Board of Peace” Dibongkar, GREAT Institute: Keputusan Prabowo di Davos Sudah Benar

Jumat, 23 Januari 2026 - 18:40 WIB

Rangkaian HPN 2026, 200 Wartawan Siap Berangkat ‘Retret’ Orientasi Kebangsaan dan Bela Negara

Selasa, 20 Januari 2026 - 19:10 WIB

Menembus Pasar Global: Strategi BUMDESMA Singosari Ekspor Anggrek ke Amerika dan Taiwan

Kamis, 15 Januari 2026 - 00:08 WIB

Pesan Rahasia Peradaban Nusantara Terkuak Dalam Buku Kitab Ma Ha Is Ma Ya

Sabtu, 10 Januari 2026 - 16:37 WIB

Hidayat Humaid Calon Tunggal Ketua Umum KONI DKI Jakarta 2026-2030

Berita Terbaru