Jakarta, MON — Desa kini tak lagi menjadi pelengkap pembangunan nasional, melainkan telah menjelma sebagai aktor penting dalam perekonomian global. Hal ini mengemuka dalam webinar Pospreneur #156 bertajuk “Dari Desa ke Dunia: Belajar dari Ekspor BUMDESMA Singosari untuk Desa Lainnya di Indonesia” yang digelar Selasa (20/1/2026).
Webinar yang dipandu oleh Ricky dan dibuka oleh Jonil Kaputra ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni M. Yasin dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) serta Agus Sudirikanto, Direktur BUMDESMA Singosari – pelaku sukses ekspor anggrek ke Amerika Serikat dan Taiwan.
Desa Ekspor, Pilar Indonesia Emas 2045
Dalam paparannya, M. Yasin menegaskan bahwa pengembangan desa berbasis ekspor merupakan salah satu dari 12 agenda prioritas Kemendes PDTT untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Ia mengungkapkan, dalam lima tahun terakhir terdapat 123 desa di Indonesia yang telah menembus pasar ekspor dengan nilai transaksi mencapai Rp171 miliar.
“Bayangkan jika satu desa saja memiliki satu produk unggulan berorientasi ekspor. Dampaknya akan sangat besar bagi ekonomi desa,” ujar Yasin.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa ekspor bukan sekadar soal mengirim barang ke luar negeri. Terdapat lima kunci utama yang wajib dipenuhi BUMDes:
– Kualitas produk yang konsisten
– Legalitas usaha yang lengkap
– Sistem logistik efisien, termasuk pemanfaatan layanan seperti POSAJA
– Kepercayaan buyer, terutama soal kapasitas produksi
– Riset pasar sesuai karakter negara tujuan
BUMDESMA Singosari: Ekspor Itu Sulit, Tapi Bisa
Direktur BUMDESMA Singosari, Agus Sudirikanto, membagikan pengalaman nyata di balik kesuksesan ekspor anggrek yang kini rutin dikirim ke Amerika Serikat dan Taiwan. Ia mengakui, proses menuju pasar internasional tidak mudah.
“Kalau ditanya ekspor itu rumit atau tidak, saya jawab jujur: sangat rumit,” ungkapnya.
Ia menceritakan, timnya membutuhkan waktu dua tahun penuh hanya untuk mengurus perizinan ekspor. BUMDESMA Singosari bahkan menjadi satu-satunya BUMDes di Indonesia yang mengantongi izin edar luar negeri untuk komoditas anggrek.
Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bahwa kesabaran, ketekunan, dan kesiapan mental adalah kunci utama dalam membangun usaha desa berbasis ekspor.
Ubah Pola Pikir: Desa Tidak Boleh Minder
Menurut Agus, tantangan terbesar justru datang dari pola pikir masyarakat desa sendiri. Banyak potensi desa yang akhirnya dikuasai pihak luar karena warga lokal kurang percaya diri.
“Padahal secara teknis, masyarakat desa sangat mampu. Kami membuktikan bunga anggrek bisa menempuh perjalanan jauh tanpa rusak. Potensinya luar biasa, tinggal bagaimana kita mengelolanya,” ujarnya.
Profesionalisme Jadi Harga Mati
Agus menegaskan bahwa SDM adalah kunci utama keberhasilan BUMDes. Ia menyebut, kurang dari 20 persen BUMDes di Indonesia yang benar-benar siap berkembang karena lemahnya kualitas pengelola.
Beberapa poin penting yang ia tekankan:
– Direktur BUMDes idealnya berpendidikan minimal D3 atau S1
– Mampu bernegosiasi dan membangun jejaring nasional
– Tidak hanya bekerja teknis, tetapi berpikir strategis
“Direktur BUMDes harus punya keberanian menerobos. Kalau hanya muter di desa, BUMDes tidak akan pernah naik kelas,” tegasnya.
Tantangan Perizinan: Menembus Banyak Lembaga
Meski telah memiliki payung hukum melalui PP Nomor 11 Tahun 2021, Agus mengungkapkan bahwa pengakuan terhadap BUMDes di tingkat pusat masih menjadi tantangan.
Ia mengaku harus berhadapan dengan sedikitnya delapan instansi pusat, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), demi mengantongi izin ekspor.
“Banyak yang menyerah di tengah jalan karena prosesnya panjang, melelahkan, dan mahal,” ungkapnya.
Strategi Bisnis: Digital Kuat, Branding Tetap Dijaga
Saat ini, BUMDESMA Singosari mengelola lahan seluas 1.000 meter persegi dengan 21 tenaga kerja. Strategi pemasaran dibagi menjadi dua:
Offline (branding): Pameran nasional dan internasional seperti Surabaya, Jakarta, hingga Osaka.
Online (70–80% penjualan): Live streaming dua kali sehari untuk menjangkau pasar nasional.
Seiring meningkatnya permintaan, BUMDESMA juga bertransformasi menjadi aggregator, membeli tanaman dari petani desa lain untuk dibesarkan dan dipasarkan kembali. Model ini memperkuat ekosistem ekonomi desa secara kolektif.
Desa sebagai Subjek Ekonomi Global
Kisah BUMDESMA Singosari membuktikan bahwa desa bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek aktif dalam ekonomi global. Dengan manajemen profesional, legalitas kuat, serta keberanian menembus batas, desa mampu bersaing di pasar internasional.(*)
Penulis : Firnas Muttaqin
Editor : Redaksi








